BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Proses distribusi yang panjang menjadi penyebab tingginya harga beras di Indonesia. Paling tidak, ada 6 titik distribusi beras sebelum sampai ke tangan konsumen.
Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi sebagaimana dikutip dari bisnis.com, Selasa 22 Mei 2018.
“Menurut catatan kami, setidaknya ada enam titik distribusi beras sebelum mencapai konsumen. Distribusi yang panjang inilah penyebab tingginya harga beras di Indonesia,” kata Hizkia.
Rantai distribusi yang panjang ini, terang Hizkia, dimulai dari petani yang karesa satu dan lain hal menjual gabah kepada tengkulak. Tengkulak kemudian menjual ke pemilik penggilingan.
Di penggilingan, gabah tersebut akan digiling menjadi beras. Pemilik penggilingan kemudian menjual beras ini ke pedagang besar yang memiliki gudang penyimpanan. Baru dari pedagang besar ini beras akan dijual ke pedagang kecil. Masyarakat sebagai konsumen kemudian mendapatkan beras dari pedagang kecil ini.
“Laba terbesar akan berada di tangan tengkulak, pemilik penggilingan padi, dan juga pedagang besar yang memiliki gudang penyimpanan. Sementara yang dirugikan adalah petani dan pedagang kecil atau eceran,” tambah Hizkia.
Untuk itu, Hizkia meminta pemerintah turun tangan dalam memperbaiki rantai distribusi beras ini. Caranya adalah dengan melakukan perhitungan akurat daerah-daerah mana saja yang menjadi penghasil beras, dan juga mengetahui kondisi petani yang sebenarnya.
“Selain itu, pemerintah juga harus memperbaiki koordinasi antar intansi pemerintah. Perbedaan data antar intansi pemerintah membuat keputusan untuk impor beras tidak tepat atau malah berlebih,” pungkas dia. (bpc2)









