Masa Keemasan Bisnis Alat Bantu Seks

Senin, 02 Desember 2013 16:29

BERTUAHPOS.COM – Chris Wu bukanlah sarjana kacangan. Perempuan 33 tahun ini adalah lulus pascasarjana Universitas Leeds, Inggris. Tapi alih-alih bekerja di bidang kehumasan, dia malah sukses berbisnis sex toy alias alat bantu seks.

Wu berterus terang, sewaktu kuliah di Inggris dia suka pergi ke toko-toko mainan seks dan ingin memiliki sejumlah alat bantu yang bagus di toko-toko itu. Tapi saat kembali ke Beijing, dia kecewa. Produk alat bantu seks di China rendah kualitas dan desainnya.

“Itulah awal mula timbulnya keinginan saya mendirikan toko sex toy sendiri,” kata Wu. “Tapi karena saya merasa harus punya pengalaman lebih banyak, saya bekerja di perusahaan PR selama lima tahun dan memulai bisnis sex toy tiga tahun lalu.”

Wu kini mempekerjakan enam staf di toko TOIs Intimacy Boutique. Toko online-nya sendiri sudah untung pada satu setengah tahun yang lalu.

Baca: Sejahtera Karena Sawit Adalah Hak Rakyat Indonesia

Wirausahawan lain yang bergerak di bidang itu adalah Li Chengze. Dia memulai bisnis toko sex toy setelah bekerja selama setahun di industri periklanan. Dia melihat potensi besar di pasar sex toy. “Demand sangat besar karena kebanyakan orang lebih memilih belanja sex toy secara online,” kata pria 26 tahun lulusan dari Universitas Teknologi Chengdu itu.

Chengze memulai bisnisnya di Guangdong pada Oktober lalu. Saat ini tokonya menerima ratusan pesanan setiap bulannya.

Toko sex toy pertama di China dibuka di Beijing pada 1992. Begitu tingginya demand akan sex toy di China sampai-sampai vibrator pun bisa dibeli di banyak minimarket. Tapi banyak orang memprotes rendahnya kualitas produk sex toy di pasar lokal. Malah ada produk yang memakai bahan plastik berkualitas buruk sehingga berpotensi membahayakan kesehatan pemakainya.(detik.com)