Kopi Jawa Tengah Disukai Arab dan AS.

Senin, 09 Desember 2013 15:35

BERTUAHPOS.COM,SEMARANG– Tebu dan kopi masih menjadi komoditas utama perkebunan Jawa Tengah. Bahkan, tahun ini Jawa Tengah telah berhasil swasembada gula.

“Jawa Tengah (komoditas) yang paling tinggi dan punya prospek itu adalah kopi. Kemudian setelah itu tebu,” kata Asisten Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Joko Sutrisno saat meninjau Pameran Hasil Perkebunan dalam rangka Peringatan Hari Perkebunan Nasional di Semarang, Minggu (8/10/2013).

Advertisement

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Jawa Tengah Teguh Winarno mengatakan, saat ini produksi kopi Jawa Tengah hampir mencapai 40.000 ton per tahun.

“Tapi jangan salah, kita ekspornya hampir 50.000 ton, karena kopi-kopi dari luar masuk ke sini terus dibungkus di sini jadi produk Jawa Tengah, lalu diekspor lewat (Pelabuhan) Tanjung Mas,” ujar Teguh.

Baca: Garuda Pekanbaru Akan Tambah Jadwal Terbang

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan daerah-daerah produsen kopi di Jawa Tengah berada di lereng-lereng gunung, seperti di lereng gunung Slamet, gunung Merapi-Merbabu, gunung Sindoro-Sumbing, gunung Muria, gunung Ungaran, dan gunung Lawu.

Meskipun demikian, ia mengaku produksi kopi di wilayahnya masih kalah dengan Sumatra. “Nggak (bukan produsen utama nasional). Kalau dengan Sumatra ya kalah, (daerah) Gayo. Kalau Jawa Tengah kira-kira urutan ke-5 atau 6. Kalau ekspornya Jawa Tengah paling disukai oleh orang Arab dan Amerika, katanya kopinya gurih. Arabika yang paling bagus, robusta yang biasa,” ungkapnya.

Adapun mengenai tebu, Teguh menyatakan tahun ini Jawa Tengah telah mencapai surplus gula. Seluruh wilayah Jawa Tengah memproduksi tebu, kecuali Wonosobo yang merupakan daerah dataran tinggi.

“Kalau tebu setara gula kristal putih sekarang (total produksi) sekarang 370.819 ton. Sudah jelas (swasembada), karena kita swasembadanya hanya 368.000 ton per tahun. Kita sudah surplusnya 2.800 ton lebih,” kata dia.

Dengan adanya pabrik gula baru di Blora yang direncanakan mulai beroperasi tahun depan, kata Joko, diharapkan Jawa Tengah dapat surplus lebih banyak. “Di Blora banyak lahan yang kosong. Dengan adanya pabrik ini jumlah lahan kosong berkurang. Tentunya harapannya kesejahteraan petani akan meningkat dari wilayah tersebut,” ujar Joko.(kompas.com)