• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 31, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

KLHK: Sawit Lebih Ramah Lingkungan

Tim Redaksi by Tim Redaksi
20 April 2017
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM (BPC), JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai tanaman kelapa sawit paling ramah lingkungan dibandingkan jenis tanaman hutan lainnya.

Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr Bedjo Santoso di Jakarta, Kamis menyatakan, stigma negatif yang menyebutkan perkebunan kelapa sawit tidak ramah lingkungan berasal dari informasi yang salah dan tidak memiliki dasar penelitian yang ilmiah.

“Semua stigma negatif itu berasal dari informasi yang tidak berdasar. Karena dari berbagai penelitian, semuanya itu tidak terbukti,” ujarnya.

Menurut dia, justru tanaman sawit lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan jenis tanaman hutan, misalnya dari sisi penyerapan air, sawit justru lebih efisien.

Dalam setahun, sawit menyerap air sebanyak 1.104 milimeter, lebih sedikit jika dibandingkan tanaman sengon (1.355), jati (1.300), mahoni (1.500), maupun pinus (1.975).

sementara itu dari sisi penyerapan karbondioksida (CO2), sawit justru lebih banyak menyerap CO2 jika dibandingkan dengan empat tanaman hutan tersebut.  

Tiap hamparan sawit seluas 1 hektare (ha), tambahnya,  mampu menyerap CO2 sebanyak 36 ton. Jumlah itu lebih banyak jika dibandingkan dengan tanaman sengon yang hanya mampu menyerap CO2 sekitar 18 ton, jati (21 ton), mahoni (25 ton), dan pinus (20 ton).

“Angka-angka tersebut merupakan fakta penelitian yang dilakukan oleh ahli di bidangnya. Ini bukan ngarang. Jadi dimana letak sawit tidak ramah lingkungan?” kata Bedjo.

Menurut dia informasi yang menyesatkan tersebut berasal dari negara-negara barat yang tujuannya melindungi komoditasnya, baik itu tanaman rapeseed,  bunga matahari, maupun kedelai.

“Padahal justru tanaman sawit justru lebih efisien menggunakan lahan jika dibandingkan dengan tanaman rapeseed, bunga matahari, maupun kedelai itu. Perbandingannya sekitar 1 berbanding 10,” ujar Bedjo.

Senada dengan itu Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan Mukti Sardjono mengatakan rata-rata produktivitas sawit saat ini tiap tahunnnya sekitar 4,27 ton per hektare (ha) dengan total lahan di seluruh dunia baru sekitar 20,23 juta ha.

Sementara itu tanaman rapeseed yang menjadi andalan para petani di Eropa produktivitasnya tiap tahunnya hanya 0,69 ton per ha dan telah menggunakan lahan seluas 33,66 juta ha.

Tanaman kedelai yang banyak ditanam di Amerika Utara dan Kanada hingga saat ini telah menggunakan lahan seluas 121,99 juta ha dan produktifitasnya tiap tahunnya hanya 0,45 ton per ha.

Untuk bunga matahari yang juga banyak ditanam di Eropa produktifitasnya hanya 0,52 ton per ha dan hingga 2016 telah menggunakan lahan seluas 24,69 juta ha.

“Ini artinya apa, tanaman sawit jauh lebih efisien,” kata mantan Sesditjen Perkebunan ini.

Produktivitas minyak sawit per ha lahan jauh lebih tinggi (8-10 kali lipat) dari produktifitas minyak nabati lainnya.

Jadi, menurut Mukti Sardjono, salah besar apabila Parlemen Eropa dalam resolusinya merekomendasikan tanaman sawit di Indonesia diganti dengan rapeseed dan sun flower.

Apabila itu dilakukan, kata dia, bisa dipastikan perambahan hutan semakin massif,  sebab jelas dibutuhkan lahan yang lebih luas. Selain itu juga karena kedua tanaman tersebut kurang cocok ditanam di Indonesia yang beriklim tropis.

“Jadi resolusi Parlemen Eropa itu mengada-ada. Jelas sekali kalau itu hanya untuk melindungi komoditasnya yang kalah bersaing dengan minyak sawit,” katanyai.

Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB Dodik Ridho Nurrochmat mengatakan berdasarkan kajian Komisi Eropa pada 2013, selama 20 tahun terdapat 239 juta ha lahan yang mengalami deforestasi global.

Dari jumlah tersebut, sekitar 58 juta ha terdeforestasi akibat sektor peternakan (livestock grazing), 13 juta ha akibat penanaman kedelai, 8 juta ha akibat penanaman jagung, dan hanya 6 juta hektar untuk perkebunan sawit.

Dengan demikian,  menurut dia, industri sawit dunia hanya berkontribusi kurang lebih 2,5 persen dari total deforestasi global. Selain itu, industri minyak sawit merupakan bagian dari solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan berkontribusi terhadap pemenuhan permintaan biofuel dunia, sebagai pengganti bahan bakar fosil.

“Artinya, minyak sawit itu sangat peduli lingkungan,” tegas Dodik.

Pemerintah, lanjutnya, perlu hadir dan membela industri sawit nasional,  apalagi, perkebunan sawit rakyat memiliki porsi terbesar yakni 3,8 juta ha atau 41 persen dari total luas kebun kelapa sawit nasional yang mencapai 11,3 juta ha.

Apalagi sawit telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspor pada 2016 mencapai 18,1 miliar dolar AS atau setara dengan 10 persen dari APBN. “Sawit ini komoditas strategis Indonesia, jadi harus kita jaga, ujarnya. ***

Share2Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

4 Pilihan Sepatu Nike yang Nyaman Dipakai untuk Sehari-hari
Lifestyle

4 Pilihan Sepatu Nike yang Nyaman Dipakai untuk Sehari-hari

...

Read moreDetails
WMO Soroti Gas Industri di Tengah Rekor Gas Rumah Kaca

WMO Soroti Gas Industri di Tengah Rekor Gas Rumah Kaca

Zontes ZT368-G ETC, Maxi Scooter dengan Fitur Premium dan Performa Mesin Besar

Zontes ZT368-G ETC, Maxi Scooter dengan Fitur Premium dan Performa Mesin Besar

Hyundai Ioniq 9, SUV Listrik Premium Ruang Kabin Lega Harganya Rp1,6 Miliar

Hyundai Ioniq 9, SUV Listrik Premium Ruang Kabin Lega Harganya Rp1,6 Miliar

TVS Ronin Agonda, Motor Retro dengan Fitur Modern, Harga Rp37 Jutaan

TVS Ronin Agonda, Motor Retro dengan Fitur Modern, Harga Rp37 Jutaan

Hyundai Tucson 2027 Hadir dengan Gleo AI dan Simak Keunggulan Lainnya

Hyundai Tucson 2027 Hadir dengan Gleo AI dan Simak Keunggulan Lainnya

Next Post

KPU Ajukan Dana Rp500 Miliar untuk Pilgub 2018

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.