2014, Tahun Tepat Buat Investasi Rumah

Selasa, 21 Januari 2014 15:37

BERTUAHPOS.COM, Jakarta : Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) memperkirakan sektor properti, khususnya perumahan tetap akan moncer di tahun
ini.
Pihaknya juga meyakini para investor bahwa Indonesia tidak akan mengalami gelembung (bubble) properti seperti di Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum DPP Apersi, Eddy Ganefo mengatakan, para investor tak perlu khawatir terjadi perlambatan di sektor properti karena kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia (BI) seperti kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) dan Loan to Value (LTV).

“Tak perlu takut untuk berinvestasi perumahan, justru tahun ini sangat tepat untuk investasi di properti. Jangan takut juga akan terjadi perlambatan,” tegas dia di Jakarta, seperti ditulis Selasa (21/1/2014).

Lebih jauh Eddy mengakui bahwa harga rumah di Indonesia melejit setiap tahun sekitar 30%-35%. Angka ini merupakan level tertinggi di dunia. Bahkan beberapa daerah mencatatkan kenaikan harga rumah hingga 60%.

Baca: Pengusaha Minta Kenaikan Harga Elpiji Dibatalkan

“Harga rumah tidak mungkin terjadi penurunan, dan kalaupun ada cuma sedikit. Tahun ini mungkin harga rumah mencapai 25% dan itupun sudah bagus sekali. Memang kenaikan harga kebanyakan untuk rumah mewah tapi berpengaruh juga ke rumah murah, karena harga tanah jadi lebih mahal,” jelasnya.

Dia optimistis Indonesia tidak akan mengalami gelembung properti akibat meroketnya harga rumah setiap tahun. “Bubble properti masih jauh, mungkin tidak akan terjadi seperti di AS karena ada kebijakan LTV untuk menghadang bubble tapi jangan lama-lama (pemberlakuan LTV),” papar Eddy.

Sementara itu, Ekonom Senior Bank Standard Chartered, Fauzi Ichsan menilai, utang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia masih stabil hanya 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan Amerika Serikat (AS) katanya, utang KPR sampai 50%.

“Jadi posisi utang kita masih sangat rendah karena memang peran perbankan juga masih 32%. Sebelum krisis moneter, rasio KPR kita mencapai 50%, tapi China bisa di atas 150%. Jadi sangat berpotensi bubble, tapi kalau Indonesia tidak,” tukas Fauzi.(Fik/Nrm/liputan6.com)