Seminar Pergizi Pangan dan Sarihusada Bahas Masalah Gizi Ganda

Sabtu, 20 Februari 2016 17:45

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU– Guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan gizi, Pergizi Pangan  Indonesia dan PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada), bekerja sama dengan DPD Persagi Riau, gelar seminar Ilmiah Populer. Acara yang dihadiri ratusan peserta berlangsung di Aula Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Riau di Pekanbaru.

Seminar yang bertemakan Membangun Kemitraan Gizi dan Pangan di Provinsi Riau untuk Mengatasi Masalah Gizi Ganda diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional 2016. Hadir empat pembicara dari unsur akademis dan pemerintah, yaitu  Prof Dr Ir Hardinsyah, M.S, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof Dr Ir Netti Herawati, MS, Ketua Himpunan PAUD Indonesia, Ir. Mangapul Banjarnahor, M.Kes, Ketua DPD Persagi Riau, dan Dr. Ir. Heryudarini Harahap, M.Kes, Ketua DPD Pergizi Pangan Riau.  

Seminar membahas mengenai pentingnya konsumsi pangan hewani, buah, dan sayur, pentingnya gizi bagi tumbuh kembang anak, berbagai masalah gizi dan pangan di Prov. Riau, serta peran muliti pihak dalam mengatasi masalah gizi.

Prof. Hardinsyah, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, dalam paparannya mengenai Pentingnya Pangan Hewani, Buah dan Sayur. Dirinya mengatakan, saat ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi, yang salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan gizi seimbang.  Panduan Gizi Seimbang (Kemenkes, 2015) menganjurkan setiap remaja dan dewasa Indonesia mengkonsumsi  2-4 porsi (100-200g) pangan hewani, 3-4 porsi (300-400g) sayur dan 2-3 porsi  (100-150g) buah setiap hari guna memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral serta serat untuk hidup sehat.  

Baca: BMKG: Hari Ini Riau Minim Hujan

“Kenyataannya saat ini konsumsi sayur dan buah baru sekitar seperempat jumlah yang dianjurkan dan konsumsi pangan hewani baru tiga-perempat jumlah yang dianjurkan,” kata Prof Hardinsyah.

Riskesdas 2013 menyatakan bahwa 93,5% penduduk Indonesia berusia ≥ 10 tahun berperilaku konsumsi sayur dan buah yang kurang.  Sedangkan konsumsi pangan hewani pada ikan, telur dan susu pada masyarakat di Indonesia masih di bawah rata-rata konsumsi pangan hewani masyarakat di ASEAN.  Provinsi Riau sendiri mencatat prevalensi penduduk berusia > 10 tahun yang berperilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 98,9% atau hampir seluruh penduduk.

“Berbagai studi telah membuktikan bahwa konsumsi pangan hewani yang cukup dapat mencegah defisiensi gizi mikro, mencegah anemia, dan meningkatkan kemampuan belajar.  Sedangkan konsumsi buah dan sayur yang cukup dapat menurunkan risiko penyakit  pembuluh darah, kanker dan depresi.   Karenanya perlu berbagai kebijakan dan upaya untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral melalui peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan hewani, sayur dan buah, serta pangan fortifikasi gizi mikro,” tambah Prof. Hardinsyah.

Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, MS, Ketua Himpunan PAUD Indonesia, melalui paparannya berjudul “Gizi dan Tumbuh Kembang pada Anak”, menjelaskan bahwa masalah gizi pada periode 2007-2013 menunjukkan peningkatan gizi kurang.  Data underweight dan stunted tahun 2010 masing2 17,9% dan 35,6% lalu meningkat pada tahun 2013 masing-masing menjadi 19,6% dan 37,2%.  

Sepertiga anak Indonesia stunted. Hal ini berdampak besar terhadap mutu SDM bangsa, mengingat 90% potensi kecerdasan otak dibangun pada usia dini.  PAUD bertujuan mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini.  Tujuan pendidikan nasional salah satunya adalah anak sehat.   Permendikbud 137/2014 tentang standar nasional PAUD dan Permendikbud 146/2014 tentang Kurikulum PAUD telah mengamanahkan PAUD harus mewujudkan anak sehat, status gizi optimal, dan perilaku hidup sehat.

 Namun guru PAUD belum kompeten mengimplementasikannya.  Di Riau, data riset Prof. Netti Herawati yang melibatkan semua kabupaten-kota dengan 100 orang guru per kabupaten-kota menunjukkan hanya 7% yang kompeten dalam penyelengaraan gizi.  “Ini perlu menjadi pemikiran kita bersama, apalagi PAUD dan guru dengan program parentingnya menjadi jembatan dalam mendidik keluarga untuk mewujudkan tumbuh kembang anak,” ungkap Prof. Netti Herawati.

Dengan topik “Masalah Gizi dan Pangan di Provinsi Riau”, Ir. Mangapul Banjarnahor, M.Kes, Ketua DPD Persagi Riau, memaparkan tentang status gizi anak balita, keluarga dan capaian kinerja kegiatan perbaikan gizi Propinsi Riau tahun 2015.

Sedangkan melalui paparannya berjudul “Peran Multi Pihak dalam Mengatasi Masalah Gizi dan Pangan, Dr. Ir. Heryudarini Harahap, M.Kes, Ketua DPD Pergizi Pangan Riau, mengajak semua pihak untuk bekerjasama dalam menanggulangi berbagai permasalahan gizi di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau.  “Upaya perbaikan gizi memerlukan dukungan berbagai pihak,” jelas Heryudarini.

Arif Mujahidin, Corporate Affairs Head Sarihusada, mengatakan, “Sebagai perusahaan yang didirikan enam puluh tahun lalu dengan misi memperbaiki gizi anak bangsa, Sarihusada terus berkomitmen untuk mendukung berbagai kerjasama dalam bidang gizi, termasuk untuk menyebarluaskan pengetahuan dan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat luas, seperti yang ingin dicapai melalui Seminar ini.”

Kegiatan Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional 2016, yang Januari lalu diawali dengan Karnaval Ayo Melek Gizi di Jakarta dan Yogyakarta.  Rangkaian kegiatan peringatan juga didukung oleh kompetisi digital yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, terdiri dari lomba video singkat, lomba pesan gizi di twitter, dan lomba foto kegiatan Hari Gizi Nasional di Facebook yang akan berakhir pada akhir Februari ini.  Keterangan lebih lanjut mengenai seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional 2016 dapat diperoleh di www.pergizi.org.

Seminar Ilmiah Populer  “Membangun Kemitraan Gizi dan Pangan di Provinsi Riau untuk Mengatasi Masalah Gizi Ganda” diikuti oleh kurang lebih 400 peserta yang terdiri dari akademisi, ahli gizi, ahli pangan, pengelola dan pelaksana program gizi dan pangan, pengurus organisasi wanita, pengurus TP PKK, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat serta khalayak umum.  Sebelumnya Seminar Ilmiah Populer serupa telah diselenggarakan di Surabaya dan Bogor, bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat. (Riki/rilis)