BERTUAHPOS.COM (BPC), SIAK – Bendera Indonesia berwarna merah putih berkibar dengan perkasa di halaman sekolah swadaya masyarakat Desa Kolam Hijau, Kampung Buantan Besar, Kecamatan Siak. Padahal jika diperhatikan dengan seksama, bendera itu sudah memudar warnanya.
Selasa (26/5/2015) pagi, waktu menunjukkan hampir pukul 08:00 WIB, bertuahpos.com menyambangi sekolah marjinal di lokasi terisolir itu. Tampak anak-anak SD satu per satu mulai memasuki ruangan berukuran 4X6 meter yang terbuat dari kayu papan. Sebelum masuk, anak-anak menyempatkan diri memberi salam hormat menghadap bendera dan memandang kearah atas bendera. Tak lama kemudian, ibu guru menyusul masuk ke ruangan dan pelajaran pun segera dimulai.
Bagi yang pertama kali datang ke sekolah itu, akan bingung menentukan mana yang kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Sebab, ketiga kelas itu digabung dalam satu ruangan. Ditambah lagi, sebagian besar murid berpakaian bebas layaknya seperti pakain bermain.
Hanya satu dua orang saja yang mengenakan seragam merahputih, lengkap dengan topi dan dasinya.
Banyak juga diantara murid yang tidak memakai alas kaki. Wajar, jalan ke sekolah swadaya itu tidak beraspal, melainkan melewati lumpur gambut yang becek. Jangan heran kalau kaki mereka tidak ada yang bersih.
Hanya ada 17 siswa dari tiga kelas. Kelas 1 sebanyak sembilan orang, kelas 2 ada empat orang, dan kelas 3 juga empat orang. Ketiga kelas itu terpaksa digabung satu lokal dalam tiga kelas.
Di dalam kelas bukan cuma lokal saja yang digabung, tapi papan tulis yang berukuran 2×3 meter itu juga dibagi untuk tiga kelas. Papan tulis, hanya dibatasi garis vertikal untuk membedakan kelasnya. Waktu jam belajar juga sangat singkat, dimulai pukul 08:00 hingga pukul 12:00 WIB.
Sekolah swadaya itu pun sempat hidup mati karena tidak ada tenaga pengajar tetap yang bersedia mengajar di tempat terisolir itu. Dan baru satu bulan terahir ini sekolah itu aktif kembali karena ada seorang guru yang rela tanpa gaji mengajar.
Guru itu bernama Heni Anjarwati (22), tamatan dari SMKN Pertanian Bungaraya. Heni merasa terpanggil untuk mengajar karena melihat antusias anak-anak yang ingin belajar. Meskipun tak dibayar, ia rela berjalan kaki sejauh 2 kilo meter dari rumahnya agar bisa mewujudkan cita-cita anak-anak kampung itu.
“Saya terpanggil karena melihat antusias mereka, katanya ingin menjadi orang berguna. Ada yang mau jadi polisi, dokter, dan guru,” terang Heni.
Kepada bertuahpos.com, Heni berkisah, wajar jika anak usia wajib belajar yang jumlahnya 30-an di kampung itu banyak yang putus sekolah. Sebab di sana tidak ada sekolah, baik negeri maupun sekolah swasta.
Jika ingin ke sekolah yang bagus dan mendapatkan ijazah, warga harus menempuh jalan rusak sejauh 12 kilometer dari desa. Karena itulah, istri dari Sobirin itu, hanya bisa berharap kepada pemerintah agar bisa memperhatikan anak-anak yang masih mempunyai semangat belajar. Apalagi, pemerintah Kabupaten Siak sendiri mempunya program pendidikan grtais belajar 12 tahun.
Meskipun begitu, Heni tak patah semangat. Ia berusaha mencari solusi bagaimana caranya agar anak-anak dari sekolah swadaya itu tamat dan bisa memiliki ijazah resmi. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah, menjadikan sekolah itu di bawah binaan SDN 16 Kecamatan Bungaraya.
“Saya bersyukur, Bu Ratna, Kepala Sekolah SDN 16 mau membantu. Kalau ada ujian nasional, nanti anak murid sini bisa ikut ujian di sana,” ucapnya.
Heni menuturkan, ia sebenarnya bukan penduduk asli desa itu. Namun ia sangat tersentuh ketika warga minta untuk tinggal di kampung itu. Sebab, kalau tinggal di luar, akan susah masuk menuju pemukiman yang didominasi suku jawa dan Tapanuli Selatan itu. Bukan jalan tanah yang dilewati, tapi gambut yang sudah menjadi bubur.
“Aslinya saya gak bisa minum air gambut, mau makan aja rasa nasinya pun kecut. Tapi karena keinginan warga dan semangat anak-anak disini, yaudah gak apa saya tinggal disini,” ujarnya sembari menitikkan air mata.
Adanya panggilan dari hatinya, membuat ia akan terus tetap bertahan. Bahkan, ia tidak pernah mempermasalahkan soal berapa upah yang diterimanya. Baginya, bisa membuat anak kampung itu baca tulis dan menghitung, itu sudah lebih dari cukup.
“Saya tidak pernah mempersoalkan dana gaji, yang penting anak-anak disini bisa pintar semua,” kata Heni sambil menghusap air matanya.
Di sisi lain saat jam pelajaran masih berlangsung, para orang tua murid Heni masih bersemangat menunggu di depan pintu kelas belajar. Sebagian ada juga yang sudah pulang karena banyak kerjaan lain.
Sugginem (30) misalnya, salah satu orang orang tua yang anaknya masih kelas satu, tetap menunggu anaknya hingga pulang sekolah. Setiap hari, ia harus berjalan kaki selama satu jam menemani anaknya dari rum hingga sekolah.
“Terkadang gak saya tunggui anak saya, kadang, pulang sendiri jalan sama ibu gurunya, kan rumahnya dekatan sama guru,” tandasnya. (syawal)
Â









