Makrifat Burung Surga (14) : Kisah Sarung & Kambing Tsa’labah

Senin, 29 Mei 2017 12:18

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Burung Bayan itu meneruskan khotbahnya. “Tuhan menurunkan agama dan hukum syariat, tapi ada saja manusia yang berlaku maksiat dan ada pula yang taat. Namun Allah itu bijaksana. Nanti sesudah hari kiamat semuanya akan berbalas kebaikan atau keburukan, seperti disebut dalam Qur’an, idza mas-sahus syarru jazu-‘a wa idza massahul khairu manu-‘a (jika ditimpa keburukan manusia selalu mengeluh, tetapi ketika mendapat kebaikan atau kekayaan selalu merasa kurang dan lupa kepada kebaikan). Sudah tidak mau salat, tapi malah melakukan maksiat. Jika diberi kenikmatan sedikit saja lalu lupa bahwa kenikmatan itu hanyalah pertanda atau isyarat.”

Baca: Makrifat Burung Surga (13) : Nabi Sulaiman & Burung Puyangan

“Seperti seseorang yang sedang dicoba kemiskinan, terus saja mengeluh, kurang menerima cobaan itu, lalu mencuri dan menipu. Namun ketika diberi kekayaan dan jabatan, manusia itu berlaku sombong, bertindak menyimpang, berjudi dan mabuk-mabukan. Berbeda dengan manusia yang baik. Walaupun miskin tetap saja tawadlu’ dan sabar. Jika diberi kekayaan dan jabatan, ia bersyukur kepada Allah dan meninggikan agama-Nya. Suka memberi sedekah yang wajib atau sunnah dan menyambung silaturrahmi. Bukan seperti orang miskin pada umumnya, sesudah menjadi kaya lalu lupa salat seperti kisah Tsa’labah”.

Ketika Menco bertanya, Bayan pun menjelaskan perjalanan hidup Ki Tsa’labah. Ketika miskin Tsa’labah selalu mengerjakan salat di Masjid bersama Nabi dan para sahabat. Setiap selesai salam, ia selalu pergi tanpa mengerjakan zikir. Kebiasaan salat Tsa’labah itu menjadi perhatian Nabi.

Baca: Jokowi Digugat Terkait Pemblokiran Internet di Papua

Suatu hari, setelah salat dhuhur, Nabi bertanya kepada Ki Tsa’labah, kenapa ia selalu tergesa-gesa ketika salat jamaah. Dan setiap selesai salam selalu bergegas pergi.

Baca: Makrifat Burung Surga (1) : 99 Burung Bayan Hijrah

Dengan penuh hormat dan menyembah, Tsa’labah menjelaskan kepada Nabi, bahwa itu ia lakukan karena ia hanya memiliki sebuah kain sarung yang dipakai bergantian dengan istrinya.

Tsa’labah lalu meminta Nabi berkenan mendoakan agar Tuhan memberikan rezeki. Nabi mengabulkan permintaannya. Dengan syarat Tsa’labah tetap rajin berjama’ah. Saat itulah Nabi mendoakannya. (bersambung/jss)