BERTUAHPOS.COM, PEKANBARUÂ – Anak-anak yang tak berbaju tampak asyik bermain dengan temannya. Kondisi mereka cukup memprihatinkan, kumal dan berdebu.
Sementara, sebagian orang dewasa tampak tertidur. Alasnya sederhana, tikar dan terpal yang dibentangkan begitu saja. Debu, lalu lalang serta hiruk pikuk bunyi kendaraan tampak tak mengganggu tidur mereka.
Sebagian orang dewasa lain memilih duduk dan mengobrol. Kondisi mereka juga memprihatinkan. Kumal dan berdebu, seperti sudah beberapa hari tidak mandi. Hanya beberapa orang saja yang tampak bersih.
Pemandangan itulah yang didapatkan bertuahpos.com saat mengunjungi masyarakat Koto Aman, Tapung Hilir, Kampar, dibawah kolong jalan layang (fly over) Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Sabtu 9 Maret 2019. Masyarakat menolak pulang, sebelum ada solusi atas tanah mereka yang disebut diserobot oleh PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL).

Baca:Â Menolak Pulang, Masyarakat Koto Aman Bertahan di Kolong Jalan Layang Pekanbaru
“Kami sudah dari hari Selasa disini bang,” ujar salah satu warga yang berbincang dengan bertuahpos.com.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Dapson mengatakan Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Riau empat bulan lalu pernah berjanji menyelesaikan konflik lahan mereka. Dapson mengatakan masyarakat tidak akan mundur dan membubarkan diri sebelum ditemui atau diberikan solusi oleh Presiden Jokowi.
“Karena yang berjanji ini bukan pejabat daerah, bukan pejabat struktural, tapi orang nomor satu di negeri ini. Kalau janji presiden saja tak bisa ditepatinya, bagaimana jadi negeri ini,” kata Dapson.
Dapson mengatakan lahan desa mereka diserobot mulai tahun 1991 oleh PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL). Total lahan masyarakat yang diserobot PT SBAL, lanjut Dapson, adalah 1.500 hektare.
“Maka, kami tak akan mundur, sebelum tuntutan kami dipenuhi, yaitu kembalikan lahan masyarakat yang diserobot PT SBAL,” pungkas Dapson. (bpc2)









