PROVINSI Riau menorehkan capaian positif dengan realisasi investasi sebesar Rp12,67 triliun pada Triwulan II-2025. Angka ini menempatkan Riau di peringkat ke-11 secara nasional dan peringkat ke-2 di Pulau Sumatera.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan tingginya angka investasi memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi Riau tercatat 4,59% dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Tren investasi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi Riau, terutama di sektor pertanian, industri pengolahan, dan konstruksi,” ujar Asep di Pekanbaru.
Sektor Unggulan Jadi Penopang Pertumbuhan
Asep menjelaskan, peningkatan investasi tercermin pada pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang naik 2,47% secara tahunan. Lonjakan ini dipicu meningkatnya pengadaan semen, impor pupuk, serta perbaikan indeks konstruksi.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,38% berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ketersediaan pupuk yang mendukung produksi padi, peternakan, dan perikanan.
“Sektor ini bukan hanya menjamin ketahanan pangan, tapi juga punya peluang besar memperluas pasar ekspor,” jelasnya.
Di sisi lain, industri pengolahan tumbuh 2,36 persen, didorong oleh kenaikan produksi kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya. Menurut Asep, potensi hilirisasi di sektor ini sangat besar, termasuk pengembangan oleokimia, biodiesel, hingga produk makanan-minuman berbasis bahan baku lokal.
Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 4,55%, dipicu proyek strategis seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan kawasan industri.
“Ketersediaan infrastruktur memadai membuat investor semakin melirik Riau sebagai basis produksi dan distribusi,” tambahnya.
Tantangan dan Langkah Strategis
Meski investasi tumbuh pesat, BPS mencatat beberapa tantangan. Pengeluaran konsumsi pemerintah turun 7,41%, sementara sektor pertambangan tertekan dengan penurunan produksi minyak mentah dan batubara sebesar 0,10%.
“Kondisi ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi ekonomi sangat penting agar Riau tidak bergantung pada komoditas tertentu,” tegas Asep.
Dia menambahkan, pemerintah daerah perlu mempercepat perizinan, memberi insentif usaha, dan memastikan proyek strategis berjalan sesuai rencana.
“Dengan posisi geografis strategis di jalur perdagangan internasional, sumber daya alam melimpah, dan pembangunan infrastruktur yang terus berkembang, Riau berpotensi tetap menjadi destinasi investasi paling menjanjikan di Indonesia,” ujar Asep.***









