BERTUAHPOS.COM — Harga emas dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, seiring data lapangan kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan dan optimisme potensi berakhirnya konflik AS-Iran. Dua faktor itu secara bersamaan meredam kekhawatiran inflasi dan tekanan suku bunga tinggi yang selama ini membayangi pasar logam mulia.
Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,8 persen menjadi USD 4.723,28 per ounce pada Jumat, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni menguat 0,5 persen ke level USD 4.733. Emas batangan juga mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,4 persen, menunjukkan tren positif yang konsisten sepanjang pekan.
Data menunjukkan lapangan kerja AS tumbuh lebih dari perkiraan pada April, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3 persen. Ketahanan pasar tenaga kerja itu justru tidak menekan harga emas seperti yang lazimnya terjadi.
Direktur High Ridge Futures, David Meger, menyebut perilaku emas saat ini tidak mengikuti pola tradisional. Dia menilai emas kini bergerak lebih seperti aset berisiko ketimbang aset safe haven.
“Secara tradisional, kita akan berpikir angka pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan akan memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan pada emas. Namun, kita tidak benar-benar melihat hal itu terjadi hari ini,” ujar Meger.
Meger menambahkan, rebound emas lebih banyak dipengaruhi oleh prospek de-eskalasi konflik Iran yang mendorong harga energi turun dan membuka ruang bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga.
“Rebound emas terkait dengan prospek de-eskalasi di Iran, dengan harga energi yang turun, kita melihat prospek penurunan suku bunga the Fed meningkat pada masa mendatang,” kata dia.
Sehari sebelumnya, pada Kamis, 7 Mei 2026, harga emas spot sudah lebih dulu menguat 1,1 persen ke USD 4.740,42 per ounce, melanjutkan penguatan tiga sesi berturut-turut. Optimisme kesepakatan damai AS-Iran menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, bahkan berani mematok target harga emas di angka USD 5.000 per ounce jika situasi di Timur Tengah mereda. Ia menyebut pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan negosiasi damai dan arah kebijakan The Fed.
“Jika gencatan senjata bertahan, dan kita dapat mengakhiri perang ini, dan kembali berbisnis seiring selat yang terbuka, saya dapat melihat harga emas mencapai USD 5.000 per ounce,” ujar Haberkorn.
Presiden AS Donald Trump turut memprediksi konflik dengan Iran akan berakhir cepat, seiring Iran yang tengah mempertimbangkan proposal perdamaian AS. Proposal itu mencakup penangguhan program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent ikut melemah di bawah USD 100 per barel seiring meredanya ketegangan geopolitik. Penurunan harga energi ini penting karena biaya energi yang tinggi cenderung mendorong inflasi dan membuat The Fed enggan memangkas suku bunga, kondisi yang biasanya kurang menguntungkan bagi emas.
TD Securities dalam catatannya menyebut masih ada ruang bagi emas untuk menembus USD 5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi berbasis minyak mereda. Pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya permintaan dari investor dan bank sentral disebut sebagai katalis utama.
“Pergeseran kebijakan ke arah mandat lapangan kerja maksimum Fed di kemudian hari, imbal hasil yang lebih rendah, dan dolar AS yang lebih lemah, ditambah dengan meningkatnya permintaan investor dan bank sentral, dapat menghidupkan kembali tren kenaikan,” tulis TD Securities.
Bank sentral China tercatat menambah cadangan emasnya untuk bulan ke-18 berturut-turut pada April, memperkuat sinyal bahwa permintaan emas dari bank sentral global masih solid. Tren akumulasi emas oleh bank sentral ini menjadi salah satu penopang jangka panjang harga logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi global.[]









