BERTUAHPOS.COM — Harga minyak sawit mentah (CPO) tengah berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, upaya itu masih belum sepenuhnya pulih.
Harga CPO di Bursa Malaysia menguat lebih dari 1% saat penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat, 30 Oktober 2026. Namun, kenaikan itu masih belum bisa melewati batas penurunan secara mingguan yang mencapai 2,84%.
Sementara kontrak berjangka untuk pengiriman Januari, naik 1,43% menjadi 4.682 ringgit per ton pada penutupan perdagangan. Secara bulanan, kontrak tersebut masih mencatat kenaikan 1,56%.
Harga CPO berhasil pulih setelah sebelumnya terpuruk 5,8% pada September, akibat penguatan harga minyak mentah dan permintaan ekspor yang semakin strong. Selain itu, isu karhutla Indonesia turut membantai komoditi ini.
Menurut Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, bangkitnya harga CPO disebut mengikuti pemulihan harga minyak sawit mentah di Dalian dan minyak kedelai di Chicago selama perdagangan Asia.
“Harga juga pulih berkat aksi beli saat harga melemah, dengan dukungan teknikal kuat di bawah level 4.600 ringgit untuk kontrak berjangka Januari 2027,” ujar Bagani, seperti dikutip Reuters, Senin, 2 November 2026.
Walau begitu, rasa cemas terhadap meningkatnya persediaan masih membayangi pergerakan harga komoditi ini. Saat ini, kata dia, pasar cenderung berpindah pada data ekspor dan produksi minyak sawit Malaysia sepanjang Oktober yang dijadwalkan rilis pada 10 November.
Pelaku pasar juga mencermati potensi peningkatan persediaan yang dapat membatasi kenaikan harga. Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,54%, sedangkan kontrak minyak sawitnya menguat 0,9%.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade meningkat 0,76%. Pergerakan harga CPO turut dipengaruhi minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Dari pasar energi, harga minyak mentah menguat dan berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Kenaikan itu membuat CPO semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga turut memberikan dukungan terhadap harga.
Penguatan ringgit menjadi faktor yang membatasi kenaikan. Mata uang Malaysia tersebut menguat 0,07 persen terhadap dolar AS pada Jumat, sehingga CPO yang diperdagangkan dalam ringgit menjadi lebih mahal bagi pembeli bermata uang lain.*









