BERTUAHPOS.COM — Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kompak melemah sepanjang pekan lalu, dengan kontrak Oktober 2026 turun RM223 menjadi RM4.475 per ton dalam perbandingan Jumat ke Jumat. Pelaku pasar memperkirakan harga bergerak terbatas pekan ini, dengan potensi tekanan dari aksi ambil untung.
Dilansir dari Bernama, Senin (28/9/2026), kontrak November turun RM222 menjadi RM4.578 per ton dan Desember melemah RM226 menjadi RM4.672 per ton. Pelemahan juga terjadi pada kontrak Januari 2027 yang turun RM215 ke RM4.768 per ton, Februari turun RM193 ke RM4.861 per ton, dan Maret melemah RM172 ke RM4.941 per ton.
Di tengah penurunan tersebut, aktivitas perdagangan justru meningkat. Volume mingguan naik menjadi 665.059 lot dari 561.289 lot pekan sebelumnya, sementara open interest bertambah menjadi 342.948 kontrak dari 339.480 kontrak.
Jim Teh, pedagang senior minyak sawit di Interband Group of Companies, menilai penurunan harga energi membuka peluang aksi ambil untung pada kontrak CPO. Ia juga mencatat stok minyak sawit di Indonesia masih tinggi, sementara permintaan fisik berasal dari China, India, Pakistan, Asia Barat, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
“Sebeb itu, harga diperkirakan akan diperdagangkan antara RM4.300 per ton dan RM4.400 per ton, meskipun volume stok CPO untuk bulan Agustus lebih tinggi yaitu 2,8 juta ton,” kata Teh.
Pandangan lebih moderat disampaikan David Ng, pedagang internal Iceberg X Sdn Bhd. Menurutnya, harga CPO cenderung stabil, dengan pergerakan yang kemungkinan dipandu oleh data ekspor minyak sawit dan kinerja minyak nabati pesaing.
Di pasar fisik, harga CPO untuk wilayah Selatan bulan Oktober turun RM120 menjadi RM4.530 per ton. “Kami memperkirakan harga akan diperdagangkan dalam kisaran RM4.550 hingga RM4.750 per ton minggu depan,” kata Ng.









