BERTUAHPOS.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui masih ada 17,56 juta jiwa masyarakat yang belum menerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir Agustus 2026. Angka ini muncul dari selisih antara target 74,56 juta jiwa dengan realisasi 56,99 juta jiwa penerima manfaat.
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan hal ini dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis, 17 September 2026. Dia menegaskan bahwa kesenjangan tersebut bukan indikasi program berhenti berjalan.
“Selisih target penerima manfaat merupakan konsekuensi proses penguatan tata kelola yang sedang berjalan, bukan karena program tersebut terhenti,” ujarnya.
Sudaryono menjelaskan, BGN saat ini tengah melakukan refocusing terhadap daftar penerima manfaat. Langkah ini mencakup evaluasi dan penyesuaian sekolah maupun satuan penerima yang tidak lagi memenuhi kriteria program.
Sebagai hasil evaluasi tersebut, sebanyak 1.653 sekolah elite ditetapkan tidak lagi menerima manfaat MBG. BGN menilai sekolah-sekolah ini sudah tidak sesuai dengan sasaran program.
Di sisi lain, BGN tengah menyiapkan perluasan layanan ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta daerah terpencil yang selama ini belum terjangkau. Penyelarasan data penerima manfaat dengan kondisi riil di lapangan turut menjadi bagian dari proses ini.
Dia menambahkan, realisasi penerima manfaat yang dilaporkan saat ini masih bersifat sementara. Pihaknya masih terus membenahi tata kelola penyaluran program di berbagai daerah.
“Hal ini sejalan dengan realisasi penerima manfaat sampai dengan 31 Agustus 2026 yang mencapai 76,45% atau sebanyak 56,99 juta jiwa dari target 74,56 juta jiwa,” katanya.
Pembenahan tata kelola juga menyasar aspek sarana dan prasarana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). BGN menerapkan penegakan standar layanan dan higiene sanitasi (SLHS) di seluruh unit pelayanan.
“Kami menerapkan status suspend bagi SPPG yang belum memenuhi standar,” tegas Sudaryono. Perbaikan proses produksi, distribusi, hingga konsumsi turut dilakukan bersamaan dengan penguatan edukasi gizi bagi masyarakat.
Di sisi anggaran, BGN melaporkan realisasi sebesar Rp139,77 triliun atau 63,89% dari total pagu Rp218,77 triliun per 16 September 2026. Sisa anggaran Rp79 triliun masih dapat digunakan hingga akhir tahun.
Secara rinci, anggaran makan bergizi anak sekolah tercatat Rp197,01 triliun dengan realisasi Rp125,45 triliun. Sementara anggaran untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita terealisasi Rp14,32 triliun dari pagu Rp21,76 triliun.
Sudaryono mengungkapkan, alokasi anggaran ini telah mengalami pemblokiran dari pagu awal yang totalnya mencapai Rp248,28 triliun. BGN memastikan proses pembenahan tata kelola tidak menghambat penyaluran manfaat ke masyarakat yang berhak.









