BERTUAHPOS.COM – Eskalasi kekerasan di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa rangkaian serangan Israel ke Gaza yang diluncurkan baru-baru ini telah merenggut sedikitnya 11 nyawa. Tragedi berdarah ini ironisnya terjadi di tengah situasi yang seharusnya berada di bawah kesepakatan gencatan senjata.
Salah satu titik paling parah dari agresi udara ini menyasar sebuah bangunan apartemen milik keluarga Al-Safadi yang terletak di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Gempuran yang berlangsung pada malam hari tersebut langsung menewaskan empat orang anggota keluarga dalam satu rumah, yang terdiri dari sepasang suami istri beserta dua anak perempuan mereka, sementara 12 orang lainnya dilaporkan luka-luka.
Saksi mata menceritakan mencekamnya situasi saat proyektil menghantam pemukiman padat tersebut ketika sebagian besar penghuni sedang terlelap.
“Sekitar pukul 2 dini hari, sepupu-sepupu saya sedang tidur ketika sebuah rudal menghantam mereka. Mereka tidak punya kaitan dengan Hamas, juga tidak terlibat dalam apa pun. Mereka hanya anak-anak yang tidak bersalah,” kata Nael al-Safadi, kerabat korban dikutip dari AFP.
Dampak ledakan menyisakan kerusakan struktural yang sangat masif. Berdasarkan rekaman visual di lapangan, dinding luar apartemen tampak jebol dan hancur total, memperlihatkan tumpukan puing, pakaian, kasur, serta berbagai perabotan rumah tangga jemaah yang hancur berantakan.
Seorang penyintas dari hantaman bom tersebut mengekspresikan rasa trauma mendalam sekaligus kebingungannya atas motif serangan yang menyasar kediamannya.
“Demi Tuhan, saya masih merasa seperti sedang bermimpi … saya tidak pernah menyangka ini akan terjadi pada kami,” kata Mohammad al-Safadi, yang selamat dari serangan itu, kepada AFP.
“Saya warga sipil. Demi Tuhan, saya tidak pernah membawa senjata atau menembakkannya. Apa yang kalian inginkan dari saya? Kejar siapa pun yang kalian cari, apa salah saya dalam hal ini?,” tambahnya.
Rentetan Serangan Drone dan Gempuran di Kamp Pengungsi
Aksi militer Israel tidak berhenti di kawasan Sabra saja. Pihak Rumah Sakit Al-Shifa mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima satu jenazah tambahan akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) terpisah yang terjadi di area persimpangan sebelah utara Kota Gaza.
Di lokasi lain, badan pertahanan sipil setempat juga melaporkan adanya enam korban jiwa tambahan akibat serangan di titik berbeda. Tiga di antaranya meninggal dunia setelah jet tempur Israel membombardir sebuah rumah yang berada di dalam kamp pengungsi Bureij, wilayah Gaza tengah.
Jurnalis Lokal Turut Menjadi Korban
Di antara korban meninggal dunia dalam rentetan serangan ini, terdapat seorang jurnalis foto lokal bernama Ahmed Wishah. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai kameramen untuk stasiun televisi Al Jazeera yang berbasis di Qatar tersebut gugur saat menjalankan tugasnya di lapangan.
Di sisi lain, pihak militer Israel mengeluarkan pernyataan sepihak yang mengklaim bahwa Ahmed memiliki afiliasi dengan jaringan kelompok Hamas.
Hingga saat ini, kondisi di beberapa sudut Kota Gaza masih diliputi ketegangan tinggi seiring evakuasi korban luka yang terus dilarikan ke fasilitas medis tersisa.









