BERTUAHPOS – Sebanyak 4 ton garam ditebar di langit pesisir Riau untuk memancing hujan buatan. Ini salah satu upaya yang dilakukan pemerintah — selain pemadaman darat — untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau agar tidak meluas.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran Riau, M Edy Afrizal, di Pekanbaru, Selasa, 31 Maret 2026.
“OMC kali ini memang difokuskan di daerah pesisir timur Riau,” katanya. Adapun daerah sasarannya adalah Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan dan kota Dumai.
Intensitas penyemaian garam di awan terus meningkat, kata Edy. Tim telah menyebarkan material semai dalam jumlah besar untuk memancing turunnya hujan di area target. “Dalam setiap kegiatan OMC sebanyak 1 ton garam disemai di langit Riau, hingga saat ini sudah 4 ton garam yang disemai,” ujarnya.
Selain mengandalkan teknologi itu, Satgas Karhutla Riau saat ini menyiagakan satu unit helikopter untuk water bombing. Namun, dirinya mengakui, bahwa luasan lahan yang terbakar terus bertambah di beberapa titik.
“Kami sudah mengajukan kembali untuk helikopter water bombing, saat ini sedang di proses karena untuk helikopter water bombing itu perizinannya cukup panjang,” paparnya.
Terkait kondisi lapangan terkini, tim gabungan masih berjibaku memadamkan api di tiga kabupaten yang menjadi titik panas utama, yakni Bengkalis, Pelalawan, dan Indragiri Hilir (Inhil). Meski beberapa wilayah sudah terkendali, petugas tetap waspada melakukan proses pendinginan guna memastikan api tidak kembali berkobar dari bawah permukaan tanah.
“Karhutla dilaporkan masih terjadi di tiga daerah di Riau, yakni di Bengkalis, Pelalawan dan Inhil. Di Inhil dan Pelalawan laporannya tinggal pendinginan, sedangkan di Bengkalis masih dilakukan pemadaman,” katanya.
Operasi modifikasi cuaca ini diharapkan mampu menjaga kelembapan lahan gambut Riau di tengah cuaca panas ekstrem, sehingga risiko bencana asap tahunan dapat diminimalisir sedini mungkin.***









