BERTUAHPOS – Ketegangan geopolitik global yang meningkat pasca pecahnya konflik bersenjata Timur Tengah — antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran — faktanya tidak mampu mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi.
Meski pasar dibayangi ketidakpastian besar, harga logam mulia justru menunjukkan tren stabil, cenderung melandai, bahkan sempat menyentuh angka 5.327,42 dolar AS per troy ons pada awal Maret 2026. Angka yang biasa saja, tidak seperti pada krisis sebelumnya.
Data pasar menunjukkan bahwa satu minggu setelah perang dimulai, pada 28 Februari 2026, harga emas tercatat berada di posisi 5.327,42 dolar AS atau setara Rp 89,7 juta.
Namun, saat ini pergerakan harga justru melandai dan bergerak stabil di kisaran 5.000 hingga 5.200 dolar AS (sekitar Rp 84,2 hingga Rp 87,6 juta).
Data ini seolah mematahkan ekspektasi tradisional investor yang biasanya menganggap emas sebagai aset aman (safe haven) utama saat terjadi perang besar, seperti di situasi saat ini.
Dilansir dari DW, Jumat, 20 Maret 2025, Kepala Divisi Riset Metals di Deutsche Bank, Michael Hsueh, tidak terkejut melihat dinamika pasar emas global yang seperti ini.
Menurutnya, walau krisis biasanya mendongkrak komoditas, setiap kasus memiliki karakteristik yang berbeda secara fundamental. Dia menegaskan bahwa Deutsche Bank mengalami hal serupa tahun lalu—setelah serangan Israel terhadap Iran.
“Ada perbedaan yang lebih besar antara masing-masing kasus daripada perkiraan rata-rata,” ujar Michael Hsueh menjelaskan anomali harga tersebut.
Senada dengan itu, analis komoditas di Commerzbank, Carsten Fritsch, mengamati bahwa emas gagal memanfaatkan momentum ketidakpastian perang Iran untuk meroket lebih jauh.
Dirinya mencatat bahwa harga saat ini justru lebih rendah jika dibandingkan dengan periode sesaat sebelum konflik senjata tersebut meletus di Timur Tengah.
“Harga emas tidak bisa memanfaatkan ketidakpastian perang Iran. Sebaliknya, harganya bahkan lebih rendah dibanding sebelum perang dimulai,” kata Carsten Fritsch.
Secara teknis ekonomi, terdapat dua faktor utama yang menekan laju kenaikan emas. Pertama, dominasi dolar AS yang menguat tajam membuat emas menjadi komoditas yang mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga volume permintaan global menurun.
Kedua, kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang justru memicu inflasi, yang kemudian direspon pasar dengan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi.
Suku bunga yang tinggi membuat emas kurang menarik karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga dibandingkan instrumen investasi lainnya.
Menurut Fritsch, kombinasi dari penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia memberikan dampak negatif yang signifikan secara simultan terhadap daya tawar harga emas di pasar internasional.
Kondisi ini lah yang memaksa pelaku pasar untuk lebih realistis melihat data fundamental — daripada sekadar merespon sentimen kepanikan perang.
Di sisi lain, CEO Fragold GmbH, Wolfgang Wrzesniok-Roßbach, menyarankan agar para investor individu maupun institusi tidak perlu merasa terkejut dengan stabilitas harga saat ini.
Baginya, pasar saat ini sedang dalam fase mendinginkan diri setelah sempat mengalami kenaikan yang tidak wajar akibat aksi spekulasi pada kuartal sebelumnya dan di awal tahun.
“Kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya pada kuartal terakhir dan pada bulan Januari yang tidak didorong data fundamental (lebih pada spekulasi), sehingga harga menjadi terlalu tinggi,” tuturnya.
Menurut pandangan Wolfgang, harga emas yang terlalu tinggi pada kuartal keempat tahun lalu sudah cukup memicu penurunan permintaan perhiasan ke level terendah dalam 15 tahun terakhir.
Bahkan, bank sentral di berbagai negara pun mulai mengerem aksi beli mereka. Pada kuartal keempat, bank sentral tercatat hanya membeli 230 ton emas, yang merupakan angka permintaan terendah kedua dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Carsten Fritsch dari Commerzbank menambahkan lonjakan harga pada awal tahun lebih banyak dipicu oleh faktor psikologis pasar seperti ketakutan akan kehilangan momentum keuntungan atau fear of missing out (FOMO).
“Kenaikan harga pada Januari berlebihan dan tidak dapat dijelaskan oleh faktor biasa. Rasa serakah dan takut melewatkan kenaikannya harga juga berperan,” pungkas Fritsch.***









