• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 23, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Memahami Perilaku Konsumen di Era Platform Digital: Etika Algoritma Membentuk Pilihan Pasar

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
7 Maret 2026
Memahami Perilaku Konsumen di Era Platform Digital: Etika Algoritma Membentuk Pilihan Pasar

Charly Simanullang

Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Charly Simanullang | Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Eknomi dan Manajemen Bisnis, Universitas Riau


SELAMA beberapa dekade, teori perilaku konsumen dibangun di atas asumsi bahwa konsumen adalah pengambil keputusan yang rasional. Konsumen diasumsikan mengenali kebutuhan, mencari informasi, membandingkan alternatif, lalu membuat keputusan pembelian secara sistematis. Kerangka berpikir ini tercermin kuat dalam model klasik Engel Blackwell Miniard, dimana model ini menjelaskan proses keputusan sebagai rangkaian tahap linear dimulai dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian, dan evaluasi pascapembelian.  Dalam paradigma ini, konsumen dipandang sebagai aktor yang relatif independen dalam menentukan pilihannya.

Namun perkembangan ekonomi digital saat ini telah mengubah paradigma tersebut secara fundamental. Keputusan konsumen hari ini  dipengaruhi oleh desain sistem digital, arsitektur pilihan, serta algoritma yang bekerja di balik platform. Perubahan ini menunjukkan bahwa teori perilaku konsumen tidak berhenti pada model klasik, tetapi terus berevolusi mengikuti dinamika teknologi dan struktur pasar. Model awal seperti Howard Sheth yang  menempatkan keputusan pembelian sebagai hasil proses pembelajaran dari stimulus yang diterima konsumen, dimana stimulus tersebut dapat diperoleh dari iklan, pengalaman penggunaan, maupun rekomendasi dari lingkungan social. Tetapi seiring perkembangan teknologi stimulus tersebut tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh komunikasi pemasaran konvensional, tetapi dimediasi oleh sistem platform yang mengatur aliran informasi kepada pengguna dalam hal ini konsumen. Theory of Reasoned Action dan Theory of Planned Behavior menegaskan bahwa perilaku pembelian dipengaruhi oleh sikap individu, norma sosial, serta persepsi mengenai kemampuan untuk melakukan tindakan tertentu. Di era media sosial, dimensi norma sosial  semakin kuat seperti ulasan pelanggan, konten kreator, dan rekomendasi komunitas digital membentuk persepsi kolektif dan sering kali lebih berpengaruh dibandingkan pesan promosi perusahaan.

Perkembangan berikutnya dalam kajian perilaku konsumen memperlihatkan bahwa rasionalitas manusia memiliki keterbatasan. Konsep Bounded Rationality menjelaskan bahwa individu tidak selalu mengoptimalkan keputusan, melainkan memilih alternatif yang dianggap cukup memuaskan. Dalam lingkungan digital yang memberikan alternatif pilihan produk, keterbatasan kognitif ini semakin terlihat jelas.

Konsumen sering kali tidak melakukan evaluasi secara mendalam terhadap seluruh alternatif yang tersedia, melainkan menggunakan jalan pintas kognitif Fenomena ini diperkuat oleh temuan dalam Prospect Theory yang menunjukkan bahwa manusia lebih sensitif terhadap potensi kerugian dibandingkan keuntungan. Strategi pemasaran modern seperti diskon besar, flash sale, atau penawaran waktu terbatas secara efektif memanfaatkan kecenderungan psikologis ini. Konsumen tidak hanya merespons nilai ekonomis suatu produk, tetapi juga cara informasi tersebut disajikan

Dari perspektif psikologi kognitif, Dual Process Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki dua mekanisme berpikir yaitu sistem cepat yang bersifat intuitif dan sistem lambat yang bersifat analitis.. Ekosistem digital yang serba cepat cenderung mendorong dominasi sistem intuitif, Kebiasaan menggulir layar, meninjau rekomendasi produk, dan melakukan pembelian hanya dengan beberapa klik menyederhanakan sekaligus mempercepat proses pertimbangan, yang sebelumnya dipandang sebagai  inti dari pengambilan keputusan rasional.Dalam konteks ini, desain pilihan menjadi faktor yang semakin menentukan. Nudge Theory menunjukkan bahwa cara suatu pilihan disusun dapat mengarahkan perilaku tanpa harus memaksa individu. Banyak platform digital memanfaatkan prinsip ini melalui fitur rekomendasi produk, pengaturan default, serta tata letak yang memprioritaskan opsi tertentu. Pilihan tetap tersedia, tetapi arah keputusan secara halus dibentuk oleh arsitektur sistem.

Adopsi teknologi oleh konsumen juga tidak dapat dilepaskan dari persepsi mengenai manfaat dan kemudahan penggunaan, sebagaimana dijelaskan dalam Technology Acceptance Model. Dalam praktik bisnis digital, pengalaman pengguna yang sederhana dan efisien sering kali menjadi penentu utama keberhasilan konversi pembelian. Inovasi seperti pembayaran satu klik atau integrasi layanan logistik bukan sekadar peningkatan fitur teknis, melainkan strategi untuk mengurangi hambatan psikologis dalam proses transaksi.

Faktor lainnya yaitu  media sosial memperkuat dimensi pengaruh sosial dalam keputusan konsumsi. Social Influence Theory menjelaskan bahwa individu cenderung mengikuti preferensi kelompok atau otoritas yang mereka percayai. Fenomena influencer, ulasan pelanggan, dan konten buatan pengguna menjadi bentuk baru dari bukti sosial yang sangat memengaruhi persepsi kualitas dan kredibilitas suatu produk.

Disamping faktor diatas akses informasi yang semakin luas juga melahirkan gagasan Consumer Empowerment, yaitu meningkatnya kemampuan konsumen untuk mengontrol keputusan pembelian melalui informasi yang tersedia. Namun paradoks muncul ketika jumlah informasi menjadi terlalu besar. Dalam kondisi yang dijelaskan oleh Information Overload, konsumen justru mengalami kelelahan secara kognitif dan akhirnya bergantung pada indikator sederhana seperti rating, ulasan, atau rekomendasi sistem.

Dari uarian diatas peran algoritma menjadi semakin dominan. Pendekatan berbasis Marketing Analytics memungkinkan perusahaan memanfaatkan data perilaku konsumen secara real time untuk memprediksi preferensi dan menyajikan rekomendasi yang sangat personal. Lebih jauh lagi, konsep Algorithmic Decision Making menunjukkan bahwa sistem digital tidak hanya membantu konsumen memilih, tetapi juga secara aktif membentuk pilihan yang tersedia di hadapan mereka. Sehingga  proses keputusan konsumen yang dahulu dipahami sebagai perjalanan linear kini berubah menjadi interaksi dinamis antara individu, komunitas sosial, dan sistem teknologi. Dalam kerangka Customer Journey Modern, Perjalanan konsumen bersifat nonlinier, melibatkan berbagai titik kontak yang saling terhubung, serta sering berlangsung secara simultan di antara lingkungan fisik dan digital

Bagi dunia bisnis, perubahan ini membawa implikasi strategis yang sangat besar. Keunggulan kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk atau harga yang kompetitif, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan memahami perilaku konsumen dalam ekosistem digital yang kompleks. Strategi pemasaran yang efektif saat ini menuntut integrasi antara pemahaman psikologi konsumen, desain pengalaman pengguna, serta pemanfaatan analitik data yang canggih. Transformasi ini menandai pergeseran penting dalam hubungan antara perusahaan dan konsumen, yaitu dari pendekatan transaksional menuju perancangan ekosistem pengalaman yang secara berkelanjutan membentuk preferensi konsumen

Hal yang  yang relevan bagi dunia bisnissaat ini bukan lagi apakah konsumen rasional atau emosional, melainkan sejauh mana keputusan mereka dipengaruhi oleh sistem yang mengelola informasi di sekitarnya. Dalam ekonomi berbasis data saat ini, memahami perilaku konsumen berarti memahami bagaimana manusia dan algoritma bersama-sama membentuk keputusan pasar.***


*Seluruh materi dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.




 

Tags: Opini
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Memperkuat Strategi Pemasaran di Tengah Dinamika Ekonomi
Opini

Memperkuat Strategi Pemasaran di Tengah Dinamika Ekonomi

...

Read moreDetails
Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru

Ketika Viral Menjadi Komoditas, Kredibilitas Menjadi Kelangkaan Baru

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Percaya pada AI Boleh, Menyerahkan Pilihan? Jangan

Menciptakan Makna Pasar Energi Bersih Melalui Strategi Diferensiasi Berbasis Nilai

Membaca Apa yang Dirasakan Pelanggan: Tantangan Baru Bisnis Era Moderen

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Next Post
Kenapa Gaharu RI Kian Jadi Incaran Arab Saudi?

Kenapa Gaharu RI Kian Jadi Incaran Arab Saudi?

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.