BERTUAHPOS — Prospek harga emas itu masih cerah. Analis komoditas dari Australia and New Zealand Banking Group (ANZ) yakin kalau harga emas berpotensi menembus US$5.800 per ons troi pada kuartal II-2026.
Analisa ini tertuang dalam laporan terbaru, sebagaimana dikutip Bertuahpos dari dari Kitco News. ANZ telah merevisi target kenaikan harga emas dari sebelumnya US$5.400 per ons troi. Saat ini, emas bergerak relatif stabil di kisaran US$5.000 per ons troi, setelah sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 bulan lalu.
ANZ menilai reli emas yang terjadi sekarang belum mencapai puncaknya. Bank tersebut melihat ruang kenaikan masih terbuka lebar, terutama karena prospek pelonggaran kebijakan moneter global.
Diperkirakan, bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve, akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, masing-masing 25 basis poin pada Maret dan Juni.
Penurunan suku bunga biasanya menekan imbal hasil riil obligasi, sehingga emas makin menarik sebagai aset lindung nilai.
Menurut ANZ, meski volatilitas sempat memicu kekhawatiran bahwa harga emas sudah mencapai puncak, kondisi saat ini berbeda dibanding siklus sebelumnya.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga memberi fondasi kuat bagi harga emas untuk melanjutkan tren naik.
Selain faktor moneter, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan juga ikut mengerek minat investor terhadap emas.
Kebijakan tarif yang kembali digaungkan Presiden AS Donald Trump dinilai meningkatkan risiko ekonomi global dan mendorong aliran dana ke aset aman.
ANZ juga menyoroti perubahan besar dalam sistem keuangan global. Obligasi pemerintah AS yang selama ini dianggap sebagai aset bebas risiko mulai kehilangan daya tarik karena lonjakan utang dan meningkatnya risiko geopolitik.
Dalam situasi ini, emas dinilai berfungsi sebagai aset transisi yang memberi stabilitas dan diversifikasi ketika saham dan obligasi berada di bawah tekanan.
Peran emas sebagai penyimpan nilai dinilai semakin relevan di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi permintaan, ANZ memperkirakan arus masuk investasi melalui exchange-traded funds (ETF) berbasis emas akan menjadi pendorong utama harga. Total kepemilikan ETF emas diproyeksikan melampaui 4.800 ton pada 2026.
Permintaan tidak hanya datang dari pasar Barat, tetapi juga dari negara berkembang seperti China dan India.
Jika terjadi pergeseran kecil saja dari portofolio saham dan obligasi global ke emas—yang saat ini porsinya masih di bawah 3%—harga emas bisa terdorong naik signifikan.
Situasi ini membuat ANZ yakin bahwa menilai emas masih berada dalam tren bullish jangka menengah.***









