BERTUAHPOS – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Syahrial Abdi, menegaskan bahwa tantangan utama Provinsi Riau memasuki tahun 2026 bukan terletak pada potensi ekonomi daerah, melainkan pada keterbatasan kapasitas fiskal. Padahal, secara makro kinerja ekonomi Riau masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Dia mengatakan bahwa Pemprov Riau menyadari realisasi pendapatan daerah tahun 2025 hanya mencapai Rp8,219 triliun, atau sekitar 86,7% dari target. Sementara itu, belanja daerah tercatat sebesar Rp7,928 triliun, dengan realisasi belanja modal yang masih rendah, yakni sekitar 50%. “Tantangan terbesar kita bukan pada potensi ekonomi, tapi soal kapasitas fiskal daerah,” katanya.
Kendati demikian, Pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan III 2025 tetap tumbuh mencapai 4,98%, angka ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi daerah masih bergerak positif.
Dari sisi skala ekonomi, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau atas dasar harga berlaku mencapai Rp307,01 triliun. Capaian tersebut menempatkan Riau sebagai provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 secara nasional dan terbesar ke-2 di luar Pulau Jawa, dengan kontribusi 5,14% terhadap perekonomian nasional.
Syahrial menilai tekanan fiskal membuat ruang gerak keuangan daerah semakin menyempit, sementara tuntutan pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur justru terus meningkat. “Kondisi ini memaksa pemerintah daerah mengambil kebijakan belanja yang tidak mudah,” katanya.
Menurutnya, solusi yang dapat ditempuh adalah dengan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta melakukan efisiensi belanja secara signifikan. Langkah tersebut menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan fiskal daerah ke depan.
Sebagai arah kebijakan, Pemprov Riau telah menetapkan RPJMD Riau 2025–2029 sebagai instrumen utama transformasi ekonomi. Fokus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja, serta transformasi struktur ekonomi melalui hilirisasi sawit, penguatan industri pengolahan, UMKM, dan pengembangan ekonomi kreatif.***









