BERTUAHPOS — Kelapa sawit adalah tanaman yang menguntungkan secara ekonomi, tapi cukup bermasalah bagi ekologis lingkungan hidup.
Suka atau tidak “solusinya ada sistem pengelolaan berkelanjutan,” kata Guru Besar Kebijakan Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi.
Belakangan, polemik tentang peran kelapa sawit dalam ekosistem dan perekonomian kembali mengemuka.
Dia mengatakan polemik seperti ini akan terus terjadi selama tata kelola perkebunan kelapa sawit mengabaikan sistem berkelanjutan.
“Sawit itu bukan hutan,” katanya, namun tetap menjadi komoditas strategis yang memberi kontribusi besar bagi ekonomi nasional.
Ia menilai pohon sawit memiliki fungsi ekologis tertentu yang tidak boleh diabaikan meski tidak setara dengan hutan alam tropis.
Menurut Bayu, sawit mampu tumbuh besar dan berumur panjang, serta menyerap karbondioksida melalui fotosintesis.
Bahwa batang, serasah, dan buah sawit dapat menyimpan karbon, sementara akar dan tajuk pohonnya menjaga struktur tanah di sekitarnya.
“Kebun sawit memang berbeda dari hutan alam tropis. Sawit tumbuh secara monokultur, tidak memiliki keragaman hayati dan kemampuan ekologis seperti hutan alam,” kata Bayu dalam keterangannya.
Meski demikian, manfaat ekonomi sawit tidak dapat dipungkiri.
Kebun sawit berperan besar dalam meningkatkan pendapatan petani, mengentaskan kemiskinan, menyediakan bahan baku industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Bayu menekankan pentingnya tata kelola perkebunan, terutama pada tahap pembukaan lahan hingga proses pemeliharaan.
Menurutnya, cara membuka hutan menjadi kebun sawit sangat menentukan besaran risiko ekologis yang dapat muncul.
“Pengelolaan yang tepat akan mengoptimalkan manfaat dan meminimalkan risikonya,” ujarnya. Ia meminta adanya cara pandang yang proporsional terhadap sawit sebagai komoditas unggulan yang memiliki batas ekologis jelas.
Industri sawit Indonesia kini mengelola lebih dari 16 juta hektare kebun dan menjadi penopang ekonomi nasional.
Sektor ini menyerap hingga 20 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung serta menghasilkan lebih dari 50 juta ton CPO per tahun. Indonesia tetap menjadi produsen dan eksportir sawit terbesar di dunia.***









