BERTUAHPOS — Harga CPO kontrak berjangka di Bursa Malaysia Derivatives melemah pada Kamis (20/11/2025) setelah dua hari penguatan. Pelemahan ini terjadi akibat aksi ambil untung yang menekan sentimen pasar, menurut keterangan para pelaku perdagangan.
Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menyebut ekspor minyak sawit yang terus melemah menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu momentum kenaikan harga CPO. Kondisi tersebut dinilai membuat pasar rentan terhadap tekanan teknikal.
Sathia memperkirakan harga CPO berpotensi melonjak pada kuartal pertama 2026. Selama periode produksi sawit musiman yang lebih rendah, harga CPO diperkirakan bergerak di kisaran RM4.500 hingga RM4.600 per ton.
Ia menjelaskan produksi minyak sawit tahunan Malaysia diprediksi stagnan sehingga Indonesia harus berperan lebih besar dalam memenuhi suplai global. Produksi minyak sawit dunia pada 2025–2026 diproyeksikan mencapai 83,22 juta ton, naik dari 80,39 juta ton atau tumbuh sekitar 2,83 juta ton.
Di sisi lain, pedagang minyak sawit David Ng mengatakan pelemahan harga minyak kedelai dan ekspektasi permintaan yang lebih lambat dalam beberapa minggu ke depan semakin merusak sentimen pasar CPO. Ia menilai support harga berada di RM4.100 per ton dan resistance di RM4.280 per ton.
Pada penutupan Kamis, kontrak Desember 2025 dan Mei 2026 turun RM66 menjadi masing-masing RM4.112 dan RM4.174 per ton. Kontrak Januari dan Februari 2026 juga turun tipis RM71 menjadi RM4.139 dan RM4.155 per ton.
Untuk kontrak Maret 2026, harga tercatat turun RM70 menjadi RM4.170 per ton, sedangkan April 2026 terkoreksi RM68 menjadi RM4.177 per ton. Pelemahan ini mencerminkan tekanan lanjutan yang dirasakan pasar komoditas.
Total volume perdagangan turun menjadi 70.608 lot dari 83.103 lot pada sesi sebelumnya. Sementara open interest meningkat menjadi 278.925 kontrak dari 274.629 kontrak. Harga CPO fisik Desember Selatan juga melemah, menyempit RM40 menjadi RM4.150 per ton.***









