BERTUAHPOS — Harga CPO di kontrak berjangka Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih tinggi pada Rabu, 19 November 2025. Kenaikan ini menandai lanjutan pemulihan pasar yang masih berlangsung tidak merata, menurut laporan para pelaku perdagangan.
Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menjelaskan bahwa penguatan harga mulai mereda karena permintaan ekspor minyak sawit tetap lemah. “Pasar masih menghadapi hambatan dari minimnya sinyal permintaan luar negeri,” katanya dilansir dari Bernama, Kamis, 20 November 2025.
Sathia menyebut sentimen teknikal berbalik menjadi lebih konstruktif setelah terjadi pemulihan pada pekan terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa para trader masih berhati-hati sebab prospek ekspor Malaysia pada November diperkirakan melemah dibanding bulan sebelumnya.
Pedagang minyak sawit David Ng memperkirakan harga CPO masih mendapat dukungan di atas RM4.150 per ton dengan level resistensi di sekitar RM4.300 per ton. Ia menilai tren ini menunjukkan pasar berusaha mempertahankan momentum meski tekanan eksternal belum mereda.
Pada penutupan perdagangan, kontrak Desember 2025 naik tipis RM2 menjadi RM4.178 per ton. Kontrak Januari 2026 ikut menguat RM9 menjadi RM4.210 per ton, sementara Februari 2026 mencatat kenaikan RM17 ke level RM4.226 per ton.
Kontrak bulan berikutnya juga bergerak positif. Maret dan Mei 2026 masing-masing naik RM27 dan RM31 menjadi RM4.240 per ton, sedangkan April 2026 mencatat kenaikan RM28 menjadi RM4.245 per ton. Volume perdagangan turun menjadi 83.103 lot, sementara open interest meningkat menjadi 274.629 kontrak.
Harga fisik CPO untuk wilayah Selatan pada Desember dilaporkan turun RM10 menjadi RM4.190 per ton. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang masih mencari keseimbangan antara pemulihan teknikal dan lemahnya permintaan global.***









