BERTUAHPOS – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih tinggi pada Kamis, dipicu oleh penguatan harga minyak kedelai serta kinerja ekspor yang positif.
Analis pasar David Ng menyebutkan ekspor CPO yang lebih kuat berhasil mengangkat sentimen pasar. “Kami melihat level support di RM4.400 per ton dan resistance di RM4.580,” katanya dilansir dari Bernama, Jumat, 3 Oktober 2025.
Pada sesi penutupan, kontrak spot Oktober 2025 dan November 2025 sama-sama naik RM52 menjadi RM4.411 dan RM4.417 per ton. Sementara kontrak Desember 2025 menguat RM58 ke RM4.446, kontrak Januari 2026 naik RM57 ke RM4.461, Februari 2026 bertambah RM55 ke RM4.458, dan Maret 2026 naik RM50 ke RM4.434 per ton.
Meski harga naik, volume perdagangan turun menjadi 82.073 lot dari 83.099 lot sehari sebelumnya. Namun, open interest justru meningkat signifikan menjadi 270.071 kontrak dari 260.977 kontrak sebelumnya.
Harga CPO fisik untuk Oktober Selatan juga mencatat kenaikan RM40 menjadi RM4.430 per ton.
Kenaikan harga CPO menunjukkan sinyal positif bagi pelaku pasar. Harga minyak kedelai dunia yang menguat memberi efek domino pada CPO karena kedua komoditas ini saling bersaing di pasar minyak nabati global. Kenaikan minyak kedelai otomatis membuat CPO lebih kompetitif.
Selain itu, permintaan ekspor CPO Malaysia masih lebih kuat, sehingga ikut mendongkrak optimisme pasar. Permintaan dari India, Tiongkok, dan Timur Tengah biasanya jadi faktor utama, apalagi menjelang kuartal akhir tahun yang identik dengan konsumsi lebih tinggi.
Jika harga minyak kedelai global tetap tinggi dan ekspor Malaysia terus meningkat, harga CPO berpeluang bergerak menuju RM4.500–RM4.600 per ton dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar tetap perlu waspada terhadap fluktuasi nilai tukar ringgit dan kebijakan impor negara tujuan utama.***









