BERTUAHPOS — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan akan mengalami tekanan dan cenderung melemah pada perdagangan pekan depan.
Hal ini disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan para investor setelah lonjakan harga sebelumnya, serta stok CPO yang masih tinggi di pasar Malaysia.
Pedagang senior dari Interband Group of Companies, Jim Teh, mengatakan bahwa harga CPO kemungkinan akan diperdagangkan pada kisaran RM3.800 hingga RM3.900 per ton di Bursa Malaysia Derivatives.
Prediksi ini mengacu pada data stok CPO Malaysia yang tercatat mencapai sekitar 2 juta ton pada bulan Juni 2025. Volume tersebut dinilai masih sangat mencukupi untuk kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.
“Pasar sedang melakukan koreksi teknikal. Banyak investor mengambil untung setelah harga CPO sebelumnya naik cukup tinggi. Sementara itu, stok yang melimpah memberikan tekanan tambahan,” jelas Jim Teh, seperti dikutip dari Bernama, akhir pekan lalu.
Senada dengan itu, pedagang komoditas sawit lainnya, David Ng, menilai bahwa produksi CPO di Malaysia diprediksi akan terus meningkat seiring memasuki musim panen.
Hal ini turut memperbesar pasokan dan mendorong harga ke level yang lebih rendah. Ia memperkirakan komoditi ini pada pekan depan akan bergerak di kisaran RM4.150 hingga RM4.300 per ton.
Di sisi lain, keputusan Rusia untuk menunda pengenaan bea ekspor minyak nabati bunga matahari juga berpengaruh terhadap pergerakan harga minyak nabati global, termasuk CPO.
Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan pasokan minyak nabati di pasar internasional, yang berpotensi menekan harga CPO lebih lanjut.
Meski begitu, permintaan terhadap CPO dari sejumlah negara seperti Tiongkok, India, Pakistan, kawasan Timur Tengah, hingga beberapa negara di Eropa tetap tinggi. Negara-negara ini menjadi tujuan utama ekspor CPO dari Indonesia dan Malaysia.
Sebagai informasi, CPO adalah minyak nabati yang diperoleh dari ekstraksi daging buah kelapa sawit. Produk ini banyak digunakan sebagai bahan baku untuk minyak goreng, margarin, sabun, hingga industri oleokimia.
Indonesia saat ini merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 58% terhadap total produksi global, disusul oleh Malaysia di posisi kedua.
Pergerakan harga CPO dunia sangat berpengaruh terhadap perekonomian kedua negara tersebut, terutama sektor perkebunan dan ekspor.***









