BERTUAHPOS – Pemprov Riau mencatat hingga saat ini sudah 899 hektare lahan di Riau terbakar, berdasarkan data yang dipaparkan Gubernur Riau Abdul Wahid, saat rapat koordinasi di Gedung Daerah, Selasa, 22 Juli 2025.
Dia mengaku cukup khawatir kabut asap dari lahan terbakar akan semakin banyak dan mengarah ke negara tetangga Malaysia. “Kita sudah menaikan status dari siaga ke tanggap darurat Karhutla,” katanya.
Dengan meningkatnya status itu, upaya penanganan kebakaran lahan di Riau akan lebih masif. Adapun status tanggap darurat berlaku selama 14 hari sejak ditetapkan, kata Kalaksa BPBD Provinsi Riau M Edy Afrizal kepada Bertuahpos.
Menyusul meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot dan meluasnya titik api menyebabkan sejumlah daerah di Riau saat ini telah dirundung kabut asap.
Tercatat ada 4 daerah dengan intensitas kebakaran lahan cukup tinggi, yakni; Rokan Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis dan Kota Dumai hanya dalam rentang waktu yang singkat—15 hingga 20 Juli 2025.
Adapun penyebab kebakaran karena meningkatnya intensitas kekeringan dalam beberapa pekan belakangan ini. “Terutama di kawasan gambut, itu menjadi salah satu penyebab api mudah meluas,” kata Abdul Wahid.
Kabut asap pekat kini juga mulai bergerak ke arah utara dan timur laut, mengarah ke negara tetangga Malaysia, seiring dengan hembusan angin kencang.
Situasi ini mendorong Pemprov Riau bersama tim gabungan TNI, Polri, dan BPBD melakukan berbagai langkah darurat, termasuk pemadaman darat, water bombing, dan modifikasi cuaca.
“Posko lapangan sudah diaktifkan, peralatan berat dikerahkan untuk membuat sekat bakar, dan hujan buatan pun sudah dilakukan dengan bantuan pemerintah pusat,” tambah Wahid.
Namun demikian, tantangan di lapangan cukup berat. Lokasi kebakaran di perbukitan dan daerah gambut sulit dijangkau serta minim akses.
Selain itu, alat pemadam masih terbatas dan perlu tambahan helikopter patroli serta intensifikasi hujan buatan. “Kami juga mendirikan dapur umum untuk mendukung kebutuhan tim di lapangan,” ujar Gubernur.
Sejauh ini, Pemprov Riau berharap penanganan Karhutla bisa lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif guna mencegah meluasnya dampak asap lintas batas dan kerusakan lingkungan yang lebih parah.***









