BERTUAHPOS — Proyek pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru terus dikebut meskipun menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi pembebasan lahan maupun kondisi medan yang kompleks.
PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) sebagai pelaksana proyek menargetkan seluruh pekerjaan rampung pada Maret 2026, dengan harapan lahan sudah tuntas dibebaskan paling lambat Agustus 2025.
Site Engineering Manager (SEM) Tol Lingkar Pekanbaru Redy Trispada Putra menyebutkan, progres konstruksi sangat bergantung pada proses pembebasan lahan yang saat ini menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Semakin cepat lahan bebas, semakin cepat kami bisa bekerja. Saat ini, lahan yang dilintasi tol terdiri dari kawasan hutan, tanah milik masyarakat, dan lahan milik perusahaan,” ujarnya.
Salah satu zona yang menjadi perhatian adalah Zona II, khususnya di wilayah Karya Indah, di mana sebagian besar trase tol masuk ke kawasan hutan. Jika proses pembebasan berjalan lambat, kata Redy, hal itu berpotensi menghambat progres konstruksi secara keseluruhan.
Selain persoalan lahan, tantangan teknis juga muncul dari kondisi geografis jalur tol. Proyek ini harus melintasi sungai, bukit, dan lembah, khususnya di kawasan Muara Fajar dan Sungai Siak.
Di beberapa titik bahkan mengalami longsor selama proses pembangunan, namun menurut Redy, hal tersebut justru memberi kesempatan bagi tim teknis untuk segera melakukan penanganan sebelum tol dioperasikan.
Salah satu pekerjaan besar dalam proyek ini adalah pembangunan jembatan Sungai Siak. Redy menyebut, jembatan ini menjadi tantangan tersendiri karena panjang bentangnya lebih besar dibanding proyek sebelumnya yang hanya berupa hambatan pendek.
“Pembangunan jembatan beton di atas Sungai Siak membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang lebih lama. Tapi ini menjadi pengalaman penting bagi kami,” jelasnya.
Redy berharap proses konstruksi berjalan lancar sesuai rencana dan tol ini bisa segera dinikmati masyarakat Riau setelah rampung. Kehadiran Tol Lingkar Pekanbaru nantinya diharapkan mampu mempercepat mobilitas, mengurangi kemacetan di pusat kota, dan membuka akses ekonomi ke berbagai wilayah di Provinsi Riau.
Adapun pembangunan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru saat ini telah mencapai progres fisik sebesar 53 persen dan ditargetkan rampung pada Maret 2026.
Site Cost Commercial Manager PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) Anditya Surya Arif Dinata menjelaskan, bahwa tol ini merupakan bagian dari jaringan besar Jalan Tol Pekanbaru–Rengat yang akan terhubung dengan Tol Pekanbaru–Dumai dan Tol Pekanbaru–Bangkinang–XIII Koto Kampar.
Tol sepanjang 30,57 km ini memiliki dua lajur, lebar 3,6 meter per jalur, dan dirancang dengan kecepatan maksimal 100 km/jam. Fasilitas penunjangnya mencakup rest area Tipe A dan tiga akses pintu keluar-masuk, yakni di Rimbo Panjang, Jalan Siak, dan Muara Fajar.
Salah satu struktur utama dalam proyek ini adalah jembatan sepanjang 200 meter yang membentang di atas Sungai Siak, dengan bentang utama 97,5 meter.
Tol ini akan melintasi wilayah strategis di Kota Pekanbaru seperti Muara Fajar, Rumbai Bukit, Agrowisata, Palas, dan Sri Meranti, serta wilayah Kabupaten Kampar seperti Rimbo Panjang, Tarai Bangun, Kualu, dan Karya Indah.
“Kehadiran tol ini diharapkan mempercepat konektivitas antarwilayah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama sektor logistik, industri, dan agrowisata,” ujar Anditya.***








