• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Minggu, November 1, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Ironi ‘Melempemnya’ Pasar Syariah di Tengah Penduduk Muslim Terbesar, Ahli Berpendapat Ini Masalah Literasi

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
4 Januari 2021
pasar syariah indonesia

Ilustrasi Bank Syariah

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Ahli bisnis dan ekonomi Syariah berpendapat masalah literasi masyarakat menjadi salah satu faktor penentu, mengapa pasar syariah ‘melempem’ di negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia.

“Bahkan, tingkat literasi masyarakat terhadap pasar syariah berada di bawah 10%,” kata Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah Institute Pertanian Bogor (CIEST-IPB) Irfan Syauqi berpendapat.

Mengutip CNNIndonesia.com, dia mengatakan ada dua faktor menurutnya. Selain masalah literasi, rata-rata modal perusahaan bank syariah masih kecil. Terbukti, belum ada bank syariah yang masuk kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV. 

“Rata-rata bank syariah masih kecil, rata-rata BUKU I dan II. Makanya ini harus didorong (permodalannya),” ucap Irfan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (31/12).

Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, namun pangsa pasar bank syariah di Indonesia cuma 6,33%hingga Oktober 2020. Angka ini tak bergerak signifikan dibandingkan market share 2017 lalu, yakni 5%.

Otoritas Jasa Keuangan [OJK] mencatat total aset perbankan syariah Rp585,34 triliun per Oktober 2020. Nilainya tidak berbeda jauh dari posisi akhir 2019 yang sebesar Rp538,32 triliun.

Jika dilihat, total aset perbankan syariah dari tahun ke tahun tidak naik signifikan. Rinciannya, akhir 2017 sebesar Rp435,02 triliun. Kemudian, akhir 2018 sebesar Rp489,69 triliun, dan akhir 2019 sebesar Rp538,32 triliun.

Secara keseluruhan, total aset keuangan syariah Indonesia sebesar Rp1.741,87 triliun per Oktober 2020. Aset itu terdiri dari perbankan sebesar Rp585,34 triliun, industri keuangan non bank (IKNB) sebesar Rp112,16 triliun, dan pasar modal sebesar Rp1.044,38 triliun.

Dari data tersebut, bisa disimpulkan bahwa penetrasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Dengan kata lain, masyarakat yang bertransaksi lewat perbankan syariah masih minim dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Hal tersebut sejalan dengan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih rendah. OJK mencatat indeks literasi keuangan syariah nasional hanya sebesar 8,93% dan indeks inklusi keuangan syariah nasional 9,1%, keduanya masih berada di bawah 10%.

Bank yang masuk kelompok BUKU I, artinya memiliki modal inti maksimal Rp1 triliun. Lalu, modal inti bank BUKU II sebesar Rp1 triliun-Rp5 triliun, BUKU III sebesar Rp5 triliun-Rp30 triliun, dan modal inti bank BUKU IV lebih dari Rp30 triliun.

Menurut Irfan, semakin besar modal inti bank, maka semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk melebarkan sayap bisnisnya. Perusahaan bisa melakukan ekspansi dari segi pelayanan, teknologi, penambahan cabang, hingga karyawan.

Dia menyarankan setidaknya ada satu bank syariah di Indonesia yang masuk dalam kelompok BUKU IV. Pemerintah bisa mengupayakan hal itu melalui Bank Syariah Indonesia (BSI).

BSI adalah perusahaan hasil penggabungan atau merger bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bank yang digabungkan tersebut, yakni PT Bank BRIsyariah, PT BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri.

Ketiga perusahaan itu telah melakukan penandatanganan akta penggabungan pada pertengahan Desember 2020. Proses merger ditargetkan rampung pada Februari 2021 mendatang.

“Kami berharap bank tersebut segera menjadi bank BUKU IV. Ini berarti modal inti harus minimal Rp30 triliun. Dampaknya dahsyat,” tutur Irfan. (bpc2)

Tags: bank Syariahbank syariah indonesialiterasi bank syariahliterasi pasar syariahmarger bank syariajpasar syariahpasar syariah indonesiapertumbuhan bank syariahpertumbuhan pasar syariah
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Pembiayaan BRK Syariah Jakarta Tembus Rp240 Miliar, NPL 0 Persen
Ekonomi

Pembiayaan BRK Syariah Jakarta Tembus Rp240 Miliar, NPL 0 Persen

...

Read moreDetails

Ekspansi ke Ibukota, BRK Syariah Gandeng Nazhir Wakaf Warrior Kembangkan Wakaf Uang

BSI Serahkan Rp222,7 Miliar Zakat Perusahaan ke BAZNAS

BSI Serahkan Rp222,7 Miliar Zakat Perusahaan ke BAZNAS

Investor baru bsi

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Umat, BSI Salurkan Zakat Rp222,7 Miliar

Selama Pameran di Mal SKA, Bank Riau Kepri Syariah Terima Pendaftaran Haji dan Umrah

Menara Bank Riau Kepri Syariah 
Foto : Istimewa

Peringkat BRK Syariah Diafirmasi A Stabil, Tingkat Risiko Gagal Bayar Rendah

Next Post

Liga 1 Berpeluang Dihentikan

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.