• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Kisah Buya Hamka, Bagian II: Merantau ke Jawa

Romi J. by Romi J.
24 Juli 2020
Merantau ke Jawa

Hamka dan Natsir (Foto: Net)

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Merasa bosan di tanah kelahiran, Abdul Malik mencoba peruntungan merantau ke Jawa.

Semuanya berawal dari kebosanan Abdul Malik untuk belajar di kelas tidak berubah. Haji Rasul bahkan sudah memasukkanya ke pesantren Parabek di bawah asuhan Syaikh Ibrahim Musa.

Abdul Malik malah memutuskan keluar dari pesantren, dan mencoba berkelana hingga Payakumbuh. Bahkan, di Payakumbuh, Abdul Malik sempat ikut pacuan kuda, sebagai upah telah merawat kuda. Hanya saja, dia kalah dan diusir tuan pemilik kuda.

Bosan berkelana, Abdul Malik kemudian pulang ke rumah ayahnya di Padang Panjang. Ayah dan ibu Malik saat itu telah bercerai. Ayahnya, Haji Rasul tetap tinggal di Padang Panjang. Sedangkan ibunya, Syafiyah Tanjung menikah lagi dan tinggal di Tanah Deli.

Setibanya di Padang Panjang, Abdul Malik dapat amukan dari sang ayah karena keluar dari pesantren dan membuat malu ayahnya. Namun, Abdul Malik menolak untuk kembali sekolah di Madrasah Thawalib asuhan ayahnya.

Karena tak punya kegiatan dan selalu bertengkar dengan ayahnya, Abdul Malik diam-diam memutuskan merantau ke Jawa. Tanpa izin, Abdul Malik keluar dari rumah.

Sebulan lamanya, Abdul Malik yang hanya seorang diri tiba di Bengkulu. Namun, karena tidak ada restu orang tua, dia mendapatkan banyak halangan. Sekujur tubuhnya terkena penyakit cacar. Tak punya pilihan lain, Abdul Malik kembali pulang ke Padang Panjang.

Namun, keinginan Abdul Malik untuk tetap ke Jawa belum padam. Dengan meminta izin orang tuanya, Abdul Malik akhirnya sampai di Tanah Jawa pada tahun 1925.

Di tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta, Abdul Malik berguru langsung kepada Raden Mas Tjokroaminoto, yang kelak dikenal sebagai Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Dia adalah seorang pendiri Sarekat Islam, organisasi islam terbesar saat itu.

Dari Tjokoroaminoto, Abdul Malik belajar banyak tentang pergerakan Islam dalam menentang penjajahan Belanda. Abdul Malik kemudian bergabung dengan Sarekat Islam, meski umurnya baru 16 tahun.

Selain berguru kepada Tjokroaminoto, Abdul Malik sebebarnya juga mengagumi KH. Ahmad Dahlan, seorang tokoh pembaharuan Islam yang mendirikan organisasi Muhammadiyah.

Sayangnya, Abdul Malik tak sempat bertemu dengan Ahmad Dahlan, karena pendiri Muhammadiyah itu telah meninggal pada tahun 1923.

Abdul Malik kemudian juga mendaftarkan diri sebagai anggota Muhammadiyah. Di Muhammadiyah, Abdul Malik berguru kepada Kyai Haji Fachruddin.

Tak berselang lama, masih tahun 1925, Abdul Malik menjadi utusan Sarekat Islam untuk belajar Islam dan kepenulisan di Bandung.

Di Bandung, tepatnya Jalan Lengkong Besar Nomor 90, Abdul Malik bertemu dengan Mohammad Natsir, yang waktu itu bekerja di majalah Pembela Islam.

Sejarah kemudian mencatat, M. Natsir dan Abdul Malik atau lebih dikenal dengan Buya Hamka menjadi tokoh politik Islam di Indonesia. (bpc4)

Sumber: Buya Hamka, Sebuah Novel Biografi. Karangan Haidar Musyafa, diterbitkan Imania tahun 2018

Tags: buya hamka
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Romi J.

Romi J.

Editor: Hendra
Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Berita

Toleransi Muhammadiyah-NU: Buya Hamka dan KH Idham Khalid

...

Read moreDetails

Pernah Berseteru, Pramoedya Ananta Toer Malah Menyuruh Anaknya Belajar Agama Kepada Buya Hamka

Catatan Sejarah 24 Juli: Buya Hamka Meninggal Dunia

Perjuangan untuk Islam Buya Hamka di Dewan Konstituante

Pramoedya, Tokoh Sastra Indonesia, Pernah Berselisih dengan Buya Hamka

Belajar Toleransi Muhammadiyah-NU dari Buya Hamka dan KH Idham Khalid

Next Post
Diguyur hujan

CUACA RIAU: Malam Ini Pekanbaru Berpotensi Hujan Lagi

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.