• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 29, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Menolak Vaksin, Dulu dan Kini

Tim Redaksi by Tim Redaksi
9 Juli 2019
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Sempat dihebohkan dengan isu vaksin Measle-Rubella (MR). Alasan masyarakat sederhana, vaksin MR ini diketahui memiliki kandungan babi.

Akibat penolakan ini, program vaksinasi MR yang dicanangkan pemerintah menjadi tersendat. Di Pekanbaru sendiri, target vaksinasi 200 ribuan anak tak tercapai.

Namun, penolakan vaksinasi tak hanya terjadi pada saat ini. Sejak zaman dulu, masyarakat ternyata juga menolak vaksinasi. Alasannya terkadang lucu, takut anaknya dijadikan makanan buaya.

Abad 17, wabah cacar menyerang Ambon, Jawa, dan Sumatera. Wabah cacar juga menyerang Malaka pada tahun 1651 dan menghilangkan sepertiga penduduknya.

Berkaca di pengalaman tersebut, pada tahun 1818, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan vaksinisasi cacar. Area vaksinisasi cacar dibagi per distrik untuk memudahkan penyebarannya vaksin.

Namun, banyak masyarakat yang enggan anaknya diberikan vaksin. Seperti di Pulau Bawean pada tahun 1821. Penduduk pulau menolak vaksin dengan alasan tak disetujui ulama.

Alasan penolakan paling tidak masuk akal terjadi di Madiun pada tahun 1831. Muncul isu bahwa vaksin hanyalah akal-akalan residen untuk mengambil anak-anak dan dijadikan makanan buaya. Akibatnya, banyak orang tua yang melarikan anaknya ke hutan. (bpc2)

Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Berita Pilihan

Putusan Komisi Informasi Provinsi Riau Kontradiktif, Warga Lanjut Gugat ke PTUN

...

Read moreDetails
Inilah 2 Danau Terdalam di Indonesia, Salah Satunya Jadi Danau Terdalam ke 12 di Dunia

Inilah 2 Danau Terdalam di Indonesia, Salah Satunya jadi Danau Terdalam Ke 12 di Dunia

5 Manfaat Daun Binahong, Sukulen Asli dari Amerika Selatan

Ini 5 Manfaat Daun Binahong, Sukulen Asli dari Amerika Selatan

Heboh Isu BPJS Kesehatan Dihapus, Ini Klarifikasinya!

Heboh Kabar BPJS Kesehatan Dihapus, Ini Klarifikasinya!

Penggunaan AI Agentic Indonesia Diproyeksi Lompat ke 44% pada 2030

Penggunaan AI Agentic Indonesia Diproyeksi Lompat ke 44% pada 2030

Indonesia Kalahkan 25 Pasar dalam Adopsi AI Multimodal

Indonesia Kalahkan 25 Pasar dalam Adopsi AI Multimodal

Next Post

Viral, Ritual Pecah Kendi Garuda Saat Pemberangkatan Jemaah Haji

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.