BERTUAHPOS.COM — Sektor pariwisata kembali dibidik pemerintah sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8% pada 2029.
Pemerintah menargetkan sektor ini mampu menyumbang devisa hingga US$39,4 miliar sekaligus berkontribusi 5% terhadap produk domestik bruto atau PDB nasional.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat membuka Rakornas Pariwisata 2026 di Jakarta, belum lama ini.
“Pada 2029, target kontribusi sektor pariwisata adalah 5% terhadap PDB nasional dengan perolehan devisa yang diharapkan US$39,4 miliar,” ujarnya.
Airlangga menegaskan bahwa angka tersebut setara dengan nilai ekspor unggulan Indonesia seperti batu bara dan sawit. “Maka ini adalah domestic engine of growth yang harus kita pacu,” katanya.
Target itu dipasang di tengah tren pergerakan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, yang dinilai terus bertumbuh positif. Airlangga menyebut pariwisata menjadi andalan utama untuk meraup devisa, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Untuk mencapai target tersebut, kata dia, pemerintah mendorong penerapan paradigma baru yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan jumlah wisatawan semata.
Aspek kualitas layanan, kompetensi sumber daya manusia, hingga konektivitas destinasi dinilai perlu ditingkatkan secara serius.
Penguatan SDM menjadi langkah pertama yang pemerintah dorong melalui pendidikan vokasi, sertifikasi, dan program link and match industri pariwisata.
Tujuannya, tenaga kerja pariwisata Indonesia tidak hanya terserap di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di sektor jasa internasional.
Selain SDM, Airlangga juga menyoroti pentingnya peningkatan standar keselamatan wisata dan perluasan kebijakan bebas visa kunjungan ke lebih banyak negara.
“Penguatan otoritas kawasan wisata, pendanaan sektor pariwisata, hingga optimalisasi konektivitas transportasi menuju destinasi favorit pelancong turut masuk dalam agenda prioritas pemerintah,” ujarnya.
Namun di sisi lain, aspek tata kelola yang belum optimal dan tekanan geopolitik global masih menjadi tantangan nyata yang harus diselesaikan. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh hambatan tersebut harus diatasi secara sistematis agar visi pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional dapat benar-benar terwujud pada 2029.









