BERTUAHPOS — Tesla harus berbesar hati setelah kehilangan statusnya sebagai sebagai produsen kendaraan listrik (EV) terbesar dunia. Posisi itu berhasil disalip BYD, asal Tiongkok mencatat penjualan tahunan yang melampaui perusahaan milik Elon Musk tersebut.
Dilansir dari The Japan News, Sabtu, 3 Januari 2026, dominasi Tesla runtuh setelah penjualannya turun untuk tahun kedua berturut-turut, dipicu persaingan ketat, berakhirnya insentif pajak EV di Amerika Serikat, dan melemahnya persepsi pasar terhadap merek itu.
Sepanjang tahun 2025, penjualan mobil listrik global tumbuh 28%. BYD mencetak sejarah dengan untuk pertama kalinya unggul secara tahunan dari Tesla.
Keberhasilan BYD ditopang oleh pertumbuhan pesat di pasar Eropa—daerah yang kini menjadi medan kompetisi utama bagi produsen kendaraan listrik dunia.
Tesla mencatat penurunan penjualan sekitar 8,6% pada 2025, sehingga publik mempertanyakan apakah masa depan Tesla masih mampu bertahan di bisnis inti otomotif? terutama karena Elon Musk kini lebih fokus mengarahkan perusahaan pada pengembangan robotaxi dan robot humanoid.
Selain dari sisi penjualan mobil listrik, saham Tesla juga turun sekitar 2%. Namun sejumlah investor lebih banyak fokus pada masa depan bisnis teknologi Tesla dibanding sekadar angka pengiriman kendaraan.
Berakhirnya kredit pajak federal sebesar USD7.500 di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump juga memberi tekanan besar pada Tesla.
Pada kuartal keempat tahun 2025, Tesla mengirimkan 418.227 kendaraan, turun 15,6% dibanding 495.570 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan analis yang memproyeksikan pengiriman 434.487 unit. Sepanjang tahun 2024, Tesla hanya mengirimkan 1,64 juta kendaraan, turun dari 1,79 juta unit.
Namun, Tesla mencatat rekor baru di sektor penyimpanan energi dengan pemasangan produk sebesar 14,2 GWh. Perusahaan dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal keempat pada 28 Januari 2026 ini.
Di Amerika Utara dan Eropa, persaingan semakin sengit. Produsen mobil Tiongkok dan Eropa seperti BYD, Volkswagen, dan BMW mempersempit ruang gerak Tesla. Pendaftaran kendaraan Tesla di sebagian besar negara Eropa tercatat menurun, meski sempat melonjak di Norwegia.
Sementara itu, BYD sebagai pesaingnya, mencatatkan penjualan internasional mencapai 1 juta kendaraan pada 2025, naik sekitar 150% dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan penjualan hingga 1,6 juta unit untuk di luar China pada 2026.
Di sisi lain, Tesla meluncurkan versi “Standar” dari Model Y dan Model 3 dengan harga sekitar USD 5.000 lebih murah dari model dasar sebelumnya. Langkah ini dianggap strategi bertahan Tesla, tapi dinilai tidak cukup memuaskan sebagian investor yang berharap potongan harga lebih besar atau produk massal baru.
Meski pengiriman kendaraan turun, saham Tesla masih mencatat kenaikan sekitar 11,4% sepanjang 2025 dan turut meningkatkan nilai kekayaan Elon Musk, si pemiliknya.***









