BERTUAHPOS – Industri kelapa sawit Indonesia kini berada di persimpangan yang mengkhawatirkan, menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Gapki melihat ada potensi ambruknya volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Ancaman ini muncul akibat tren produksi nasional yang stagnan dalam lima tahun terakhir, sementara syahwat konsumsi dalam negeri terus melonjak tajam, terutama dipacu oleh program mandatori biodiesel B40.
Sekretaris Jenderal Gapki, Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono, mengungkapkan fakta pahit bahwa mesin produksi sawit nasional seolah kehilangan tenaga.
Meski kinerja ekspor tahun 2025 tercatat mencapai 32,34 juta ton atau naik 9,51 persen secara tahunan, namun jika ditarik garis dalam lima tahun terakhir, grafiknya justru menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Kondisi ini dipicu oleh lambatnya peremajaan sawit rakyat (PSR) yang membuat produktivitas tidak bergerak signifikan.
“Produksi kita lima tahun terakhir ini ya relatif tidak bergerak, so-so saja. Ini menandakan industri kita perlu ada treatment. Salah satunya adalah melambatnya replanting, kita akui itu, sehingga produksi kita tidak bergerak,” tegas Sugeng dalam pertemuan di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026, dikutip dari Binsis.com.
Dia menyebut kegelisahan pengusaha bukan tanpa alasan. Saat produksi “jalan di tempat”, pemerintah terus menggenjot penggunaan CPO untuk energi domestik. Data menunjukkan konsumsi biodiesel melonjak 10,97 persen menjadi 12,70 juta ton pada 2025 seiring transisi dari B35 ke B40. Sugeng khawatir, jika produktivitas tidak segera dipacu, pemerintah terpaksa akan mengorbankan kuota ekspor demi menjaga ketahanan energi nasional.
“Apabila ini terjadi dan terus-menerus, saya khawatir nanti ekspor kita yang dikorbankan. Ujung-ujungnya, manfaat kepada petani untuk PSR, kepada biodiesel, dan sebagainya tentu juga akan menjadi problem,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menyoroti ketimpangan antara kebun korporasi dan rakyat. Kenaikan produksi 7 persen pada 2025 lebih banyak disumbang oleh lahan perusahaan yang sudah melakukan replanting. Sebaliknya, peremajaan di tingkat petani rakyat masih merangkak sangat lambat. Padahal, dengan total produksi 56,55 juta ton saat ini, Indonesia punya potensi jauh lebih besar jika PSR berjalan optimal.
“Apabila replanting rakyat ini bisa berjalan sesuai rencana, pencapaiannya akan jauh sekali. Sekarang bisa dikatakan tidak berjalan dengan baik, dan ini menjadi PR kita bersama,” tutur Eddy.
Ketimpangan ini kian nyata saat melihat pasar ekspor utama seperti India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat mulai mencatatkan rapor merah (penurunan volume), yang menjadi sinyal bahwa posisi Indonesia sebagai raja sawit dunia sedang tidak baik-baik saja.***









