BERTUAHPOS.COM — Riset terbaru menunjukkan pelepah kelapa sawit dan limbah polistirena mampu diolah menjadi minyak pirolisis yang berpotensi digunakan sebagai campuran bahan bakar kapal. Potensi ini tengah dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan akan menjadi terobosan baru dalam pemanfaatan limbah biomassa dan plastik.
Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN Dieni Mansur menjelaskan, kapal pengangkut barang antarnegeri sejauh ini masih bertumpu pada high sulfur fuel oil (HSFO). Bahan bakat ini, kata dia, dapat memicu potensi pencemaran yang tinggi.
“Yang membuat penelitian ini penting bukan hanya karena menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi karena campuran bahan bakar tersebut mampu memperbaiki kualitas bahan bakar kapal yang sudah beredar saat ini,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa, 23 Juni 2026.
Riset dilakukan dengan memanaskan pelepah sawit dan styrofoam tanpa oksigen hingga menghasilkan minyak cair. Proses ini mencatat rendemen lebih dari 56 persen, membuktikan limbah yang melimpah di Indonesia dapat menjadi sumber energi bernilai.
Indonesia kini tengah menghadapi 2 persoalan sekaligus, yakni melimpahnya limbah biomassa perkebunan sawit serta sampah plastik yang sulit terurai. Temuan ini membuka jalan mengubah keduanya menjadi bahan bakar alternatif yang bermanfaat.
Salah satu hasil paling signifikan adalah penurunan viskositas atau kekentalan bahan bakar kapal. Bahan bakar yang terlalu kental biasanya memerlukan pemanasan awal yang menyedot energi tambahan dan menambah biaya operasional.
Dengan penambahan minyak pirolisis yang sudah diformulasi, aliran bahan bakar menjadi lebih lancar. Energi pemanasan pun bisa ditekan sehingga operasional kapal lebih efisien.
Dieni menegaskan formula campuran ini tetap menjaga kualitas sesuai standar bahan bakar kapal. “Formula ini mampu mempertahankan kualitas bahan bakar kapal sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang signifikan,” katanya.
Riset ini secara nyata menekan kandungan sulfur dalam bahan bakar. Penurunan sulfur berarti emisi sulfur oksida yang menjadi perhatian organisasi pelayaran internasional dapat ditekan, mengurangi dampak pencemaran udara.
Keunggulan lain, penerapan temuan ini tidak memerlukan investasi infrastruktur besar. Berbeda dengan teknologi kapal bertenaga hidrogen atau amonia, campuran minyak pirolisis dapat langsung digunakan pada sistem mesin yang ada dengan penyesuaian minimal.
Pendekatan ini membuktikan teknologi tepat guna mampu menyulap limbah pertanian dan plastik menjadi energi bersih. Dieni pun menekankan pentingnya melihat potensi tersembunyi dari material yang selama ini diabaikan.
“Solusi energi masa depan tidak selalu harus berasal dari sumber baru, tetapi bisa juga berasal dari limbah yang selama ini kita abaikan,” ujarnya. Riset ini sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon di sektor pelayaran.









