• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Oktober 3, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Krisis Ekologis Paksa RI Rombak Kebijakan Pembangunan

Pedrianto by Pedrianto
8 Juli 2026
Krisis Ekologis Paksa RI Rombak Kebijakan Pembangunan

Foto: Ilustrasi / Singkham.

178
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Krisis ekologis yang kian nyata menuntut perubahan fundamental dalam perumusan kebijakan pembangunan Indonesia. Sains, politik, dan etika harus diintegrasikan untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih besar.

Demikian benang merah Diskusi Meja Bundar Para Pakar yang digelar Universitas Paramadina bersama Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada belum lama ini.

Forum ini mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan aktivis lingkungan untuk mencari jalan keluar dari ancaman ekologis yang semakin kompleks.

“Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan sains, politik, etika, dan tata kelola dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia,” ujar Prof. Dr. Iin Mayasari, Wakil Rektor Universitas Paramadina.

Ketua AIPI, Prof. Daniel Murdiyarso, membuka diskusi dengan menegaskan bahwa bumi telah memasuki era Anthropocene. Peningkatan suhu global sebesar 1,6 derajat Celcius di atas kondisi pra-industri adalah bukti bahwa perubahan iklim bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan.

Dia menekankan bahwa besarnya kerusakan lingkungan membutuhkan tata kelola yang sama besarnya. Persoalannya bukan lagi apakah perubahan iklim itu nyata, tetapi apakah sains, etika, dan politik mampu dipertemukan dalam proses pengambilan kebijakan.

“Sains mampu menjelaskan dan memprediksi, tetapi ia tidak memiliki value judgement. Di situlah etika memberikan arah, sedangkan kebijakan menjadi jembatan yang menerjemahkan keduanya menjadi tindakan nyata,” tegas Fadjar Ibnu Thufail, Ketua Badan Riset dan Kewilayahan BRIN.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Laode M. Syarif, menyoroti akar persoalan tata kelola sumber daya alam yang masih terbelenggu warisan kolonial. Konflik agraria dan ketidakjelasan zonasi kawasan lindung terus memicu kerusakan lingkungan berulang.

“Selama kita belum menyelesaikan persoalan konflik agraria dan belum menetapkan secara tegas kawasan yang boleh dieksploitasi, persoalan lingkungan akan terus berulang,” ujar Laode.

Climate and Energy Campaigner Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menyatakan sains telah berulang kali memberi peringatan sebelum bencana terjadi. Namun, bukti ilmiah itu tidak kunjung diterjemahkan menjadi kebijakan.

Regulasi di Indonesia dinilai masih lebih berpihak pada eksploitasi sumber daya alam. Akibatnya, krisis ekologis terus memburuk tanpa intervensi kebijakan yang memadai.

Managing Director PPPI, Muhamad Rosyid Jazuli, mengkritisi narasi kekayaan sumber daya alam Indonesia. Ketergantungan pada sektor ekstraktif justru melahirkan kutukan sumber daya (resource curse) berupa ketimpangan dan kerusakan lingkungan.

“Negara yang maju bukan karena tambangnya, tetapi karena kelembagaannya,” ujarnya.

Wardah Alkatiri, peneliti ekologi manusia dari Universitas Nahdlatul Ulama, mengajak peserta melihat krisis lingkungan sebagai persoalan kolonialisme pengetahuan. Ia memperkenalkan pendekatan Doughnut Framework yang menunjukkan banyak negara berkembang justru mengalami eksploitasi berlebihan.

Editor Senior Ekuatorial.com, Joni Aswira Putra, menyoroti pemberitaan media yang masih berorientasi pada peristiwa bencana. Media idealnya menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi, bukan sekadar peliput pascabencana.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, membeberkan biaya ekonomi kerusakan lingkungan yang jauh lebih besar ketimbang keuntungan jangka pendek eksploitasi. Daerah pertambangan justru menanggung beban kemiskinan, biaya kesehatan, dan kerentanan bencana yang terus meningkat.

Prof. M. Amin Abdullah dari Komisi Kebudayaan AIPI mengingatkan kekuatan gagasan dalam membentuk kesadaran publik. “Forum ini menegaskan bahwa pembangunan Indonesia ke depan harus berpijak pada integrasi sains, etika, dan politik agar keseimbangan antara kesejahteraan manusia dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.

Tags: lingkungannasional
Share4Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Pedrianto

Pedrianto


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke eMail: redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Organisasi Nelayan Kritik Kebijakan Perikanan Indonesia di SSF Summit Roma
Nasional

Organisasi Nelayan Kritik Kebijakan Perikanan Indonesia di SSF Summit Roma

...

Read moreDetails
Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Listrik Tersedia, Alam Terjaga, Melihat Lebih Dekat Biodiversity Safeguard di Lanskap Koto Panjang

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

111 Tersangka Karhutla di Riau, Jikalahari Pertanyakan: Korporasinya Mana?

Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Warga Dihimbau Tidak Terbangkan Drone Saat Heli Kopter Waterbombing Beroperasi

Warga Dihimbau Tidak Terbangkan Drone Saat Heli Kopter Waterbombing Beroperasi

Next Post
Xiaomi Sky Nomad Resmi Meluncur, SUV EREV Jarak Tempuh 1.500 Km

Xiaomi Sky Nomad Resmi Meluncur, SUV EREV Jarak Tempuh 1.500 Km

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.