BERTUAHPOS — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau, sejak Juli hingga 9 Agustus 2025, telah menghanguskan sedikitnya 2.918,61 hektare lahan.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menyebut sepanjang Juli 2025 terjadi 142 kejadian karhutla dengan luas terbakar 1.768,01 hektare. Sementara hingga 9 Agustus 2025, terdapat tambahan 93 kejadian dengan luas sekitar 1.150,60 hektare.
“Pasukan Manggala Agni bersama Satgas Karhutla masih melakukan pemadaman dan pendinginan (mopping up) di Indragiri Hilir dan Rokan Hilir,” ujar Dwi.
Pemprov Riau telah memperpanjang status tanggap darurat karhutla. Sebelumnya, status darurat berlaku sejak 22 Juli hingga 4 Agustus 2025 sesuai Keputusan Gubernur Riau Nomor 682 Tahun 2025.
Dwi menjelaskan upaya pengendalian dilakukan melalui pemadaman darat maupun operasi udara. Salah satu langkah utama adalah Operation Modifikasi Cuaca (OMC) yang sudah berlangsung dua tahap, yakni 2–12 Mei dan 21 Juli–9 Agustus 2025 dengan dukungan pendanaan dari BNPB.
Menurutnya, OMC terbukti efektif menekan luas karhutla. “Sejak dijalankan pada 2015, OMC mampu menurunkan karhutla hingga 77 persen pada 2024 dibandingkan baseline 2019,” tegas Dwi.
Ia menambahkan, OMC penting untuk menjaga kelembaban lahan gambut agar tinggi muka air tanah tetap stabil. “Keberhasilan pengendalian karhutla hanya bisa dicapai lewat kolaborasi lintas sektor, sinergi koordinasi, kepemimpinan yang kuat, dan partisipasi masyarakat,” pungkasnya.***









