BERTUAHPOS — Indonesia disebut tengah menghadapi situasi darurat sampah. Peringatan ini disampaikan CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, yang menilai persoalan sampah sudah memasuki tahap luar biasa.
Organisasi lingkungan Sungai Watch mencatat, Indonesia menempati posisi kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar di laut setelah China. Data itu termuat dalam laporan Sungai Watch Report 2024, sebagaimana dilansir dari detik.com, Kamis, 2 Oktober 2025.
Dalam laporan tersebut, Sungai Watch berhasil mengumpulkan 1.078 ton sampah anorganik dari berbagai daerah, terutama Jawa Timur dan Bali. Temuan itu menunjukkan skala pencemaran plastik semakin mengkhawatirkan.
Dari hasil audit sampah, tiga perusahaan tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak pada 2024. Mereka adalah Wings di posisi pertama, Danone di peringkat kedua, dan Indofood di urutan ketiga.
Jumlah sampah plastik yang ditemukan mencakup 52.600 item dari produk Wings, 39.480 item dari Danone, dan 34.043 item dari Indofood. Botol Aqua milik Danone masih menjadi jenis kemasan paling sering ditemukan meski peringkatnya turun.
Selama empat tahun terakhir, Danone kerap menempati posisi teratas sebagai penyumbang polusi plastik terbesar. Namun, tahun ini peringkat bergeser setelah Sungai Watch memperluas audit hingga ke Jawa Timur, di mana produk Danone lebih jarang ditemukan.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah melalui Danantara menyiapkan program waste to energy (WTE) atau konversi sampah menjadi energi. Proyek ini disebut sebagai prioritas strategis yang akan segera dijalankan.
“Darurat sampah ini sudah semakin luar biasa, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di banyak kota besar lain. Waste to energy adalah solusi jangka panjang yang bisa menyatukan isu lingkungan, kesehatan, dan energi,” kata Rosan Roeslani dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengolah Sampah Menjadi Energi di Jakarta Selatan, 30 September 2025.***









