BERTUAHPOS.COM — Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Heru Susanto mengatakan, sampah plastik bernilai rendah seperti kemasan sachet, plastik multilapis, kantong tipis, dan residu kotor belum tertangani secara optimal oleh fasilitas TPS3R maupun bank sampah. Rendahnya nilai ekonomi jenis plastik ini membuat penanganannya kerap diabaikan dalam sistem daur ulang konvensional.
“Setiap kilogram sampah plastik menghasilkan rata-rata 0,8 liter Petasol, bahkan dapat mencapai 1 liter. Proses berlangsung sekitar delapan jam pada suhu 250–350 derajat Celsius tanpa distilasi ulang, melainkan melalui tahap pemurnian,” ujar Heru dalam acara BRIN EnviroTalk #55 secara daring, Jumat, 29 Mei 2026.
Timbulan sampah nasional sepanjang 2024 mencapai 38 juta ton, dengan 19 hingga 20 persen di antaranya berupa sampah plastik (sekitar 45 persen masih dibakar secara terbuka). Ini menjadi situasi darurat yang mendorong BRIN untuk menghadirkan teknologi pirolisis multikondensor.
Teknologi pirolisis multikondensor dianggap mampu mengolah plastik dalam kondisi kotor dan basah sekalipun menjadi bahan bakar minyak setara solar bernama Petasol. Proses ini bekerja melalui pemanasan tanpa oksigen yang memecah polimer menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih sederhana.
Petasol yang dihasilkan telah melalui karakterisasi dan memenuhi seluruh parameter standar bahan bakar solar sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146 Tahun 2020. Artinya, bahan bakar ini bukan sekadar produk eksperimen, melainkan sudah layak secara regulasi.
“Bahan bakar tersebut telah diterapkan pada kendaraan berbasis diesel, perahu nelayan, serta alat pertanian selama lebih dari 4 tahun dan hingga kini terbukti aman. Selain itu, pengguna merasakan performa yang lebih baik karena nilai kalor Petasol lebih tinggi dibandingkan biosolar,” ungkap Heru.
Teknologi ini sudah direplikasi di lebih dari 60 lokasi di Indonesia, termasuk Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang, dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan bank sampah setempat. Dari hasil penilaian Indeks Kinerja Teknologi (IKT), teknologi pirolisis ini meraih skor 83 dari 95 dan masuk kategori sangat baik serta layak diterapkan pada pengelolaan sampah plastik skala kawasan.
Dari sisi ekonomi, biaya produksi Petasol berkisar Rp5.000 hingga Rp6.160 per liter dengan asumsi harga bahan baku plastik Rp1.800 per kilogram. Jika bahan baku diperoleh dari bank sampah sekitar Rp200 per kilogram, biaya produksi bisa ditekan menjadi Rp4.000–Rp5.000 per liter.
“Karena belum terdapat regulasi jual beli di pasar domestik, harga Petasol ditetapkan Rp10.000 per liter. Selisih harga itu menghasilkan keuntungan Rp4.000–Rp5.000 per liter — dengan kapasitas 100 kilogram per hari, laba bersih sekitar Rp8,6 juta per bulan dan titik impas dicapai dalam sekitar 2,5 tahun,” kata Heru.









