Memberi Maaf Bermanfaat Positif untuk Kesehatan Fisik

Kamis, 12 Juni 2014 17:19

BERTUAHPOS.COM, Hasil studi terbaru dari School of Psychology and Neuroscience University of St Andrews di Skotlandia memperlihatkan, mereka yang mampu memaafkan kesalahan diri dan orang lain lebih cenderung mampu melupakan kesalahan itu.

“Belajar untuk memaafkan orang lain dapat bermanfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental seseorang,” kata Saima Noreen, penulis utama studi, seperti dilansir Medical Daily.

Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 30 orang partisipan untuk mengeksplorasi hubungan antara memaafkan dan melupakan.

Para peneliti lalu meminta masing-masing partisipan membaca 40 skenario yang berisi kesalahannya, termasuk perselingkuhan, fitnah, dan pencurian.

Baca: Pasca Insiden Kecelakaan MotoGP Jerez, Dovi Posting Foto Dirinya Salah Hidupkan Motor

Selanjutnya, para peserta mengevaluasi setiap pelanggaran yang telah dilakukan dan menjawab pertanyaan, “Jika Anda adalah korban, akankan Anda memaafkan kelakuan buruk tersebut?”

Dua minggu kemudian, para partisipan ini kembali diminta membaca skenario kesalahan mereka. Namun, kali ini masing-masing skenario dipasangkan dengan kata isyarat yang tertulis dengan tinta merah atau hijau.

Bila kata isyarat muncul dengan warna hijau,  maka peserta diminta untuk mengingat skenario terkait; tapi ketika kata isyarat muncul dengan warna merah, mereka diminta menghindari berpikir tentang skenario.

Para peneliti menggunakan standar berpikir ini untuk menguji apakah pengampunan dapat mempengaruhi proses melupakan. Prosedur dasarnya ialah melatih orang untuk melupakan informasi tertentu atau detail, dan ini sering digunakan dalam penelitian memori.

Hasil penelitian menunjukkan, para partisipan yang mampu memaafkan kesalahan mereka di skenario pertama, dapat melupakan kesalahan itu, bahkan pada skenario kedua.

Hal ini memperlihatkan, sekali kesalahan telah dimaafkan, maka secara psikologis lebih mudah untuk dilupakan. Demikian hasil penelitian yang juga dimuat Antara baru-baru ini.

Sementara berdasarkan perspektif ilmu kognitif, mengatasi emosi negatif yang kuat pada seseorang yang melakukan kesalahan pada kita dan menolak dorongan untuk membalas dendam adalah dua sifat yang dianggap sebagai fungsi kontrol eksekutif.

Studi terdahulu menunjukkan, kontrol eksekutif juga terlibat dalam kemampuan untuk melupakan. Mungkin ini mekanisme kognitif yang menghubungkan antara memaafkan dan melupakan.

“Kemungkinan adanya hubungan antara memaafkan dan melupakan adalah terarah dan jauh lebih kompleks selama waktu yang cukup lama,” ujar Noreen.

“Kami berharap, bidang penyelidikan baru dapat menggabungkan melupakan dan memaafkan yang dapat memunculkan alat terapi kuat yang akan memungkinkan orang untuk” memaafkan dan melupakan “lebih efektif”, tambah Noreen.(hIdayatullah.com)