BERTUAHPOS.COM – Riset Jakpat terbaru mengungkap pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen tren kecantikan Indonesia, dengan kualitas produk kini menjadi faktor utama yang mengalahkan pertimbangan harga. Survei yang melibatkan hampir 5.000 responden dari Gen Z, Milenial, dan Gen X ini menguji tiga kategori utama: makeup, skincare, serta perawatan tubuh dan rambut pada 2025.
Head of Research Jakpat Aska Primardi menjelaskan, temuan signifikan dalam riset ini mengenai dinamika konsumen kecantikan yang terus berkembang. “Dari hasil riset, ditemukan bahwa peran beauty influencer ini cukup dominan menjadi sumber kesadaran, namun belum mampu menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian,” kata Aska.
Dalam kategori makeup, kualitas dan hasil pada kulit mencapai skor tertinggi 4,48 dari 5 sebagai faktor utama pemilihan produk. Aspek harga dan promosi berada di posisi kedua dengan skor 4,36, sementara kredibilitas dan informasi produk mencapai 3,87, dan rekomendasi influencer hanya mendapat skor 3,52.
Hampir semua responden perempuan menggunakan produk bibir (99%) dan wajah (97%), dengan lipstick menjadi pilihan terbanyak di kategori bibir sebesar 55%. Untuk kategori wajah, complexion seperti liquid complexion atau cushion paling banyak digunakan dengan persentase 85%, diikuti bedak wajah sebesar 69%.
Aska menyebut fenomena ini relevan dengan isu kredibilitas influencer yang sempat menjadi perbincangan karena memberikan informasi kurang akurat. “Sehingga muncul wacana perlunya sertifikasi influencer di Indonesia seperti yang sudah dilakukan di China maupun Singapura,” tambahnya.
Pada kategori body care, perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa kualitas dan keamanan produk kini menjadi prioritas utama daripada harga. Pelembap tubuh mencapai skor kepentingan tertinggi 4,59 dari 5, dengan 7 dari 10 responden mengutamakan kecocokan dengan kulit mereka.
Faktor-faktor lain dalam pemilihan body lotion mencakup aroma sebesar 67%, formula yang melembapkan 61%, pertimbangan harga 54%, dan hasil pemakaian pada kulit 50%. Indikator ini menunjukkan bahwa konsumen mengevaluasi produk dari berbagai aspek komprehensif, bukan hanya daya tarik harga.
Aska menjelaskan konteks ekonomi 2026 membuat fenomena ini semakin menarik untuk dianalisis lebih lanjut. “Meskipun banyak rumah tangga menghadapi pendapatan yang stagnan sementara pengeluaran terus meningkat, konsumen tetap memprioritaskan kualitas dibanding harga untuk kategori body care, karena risiko kesalahan penggunaan produk dianggap lebih tinggi dalam jangka panjang,” terangnya.
Konsumen kini lebih teredukasi mengenai kandungan bahan aktif, risiko efek samping, dan dampak jangka panjang penggunaan produk kecantikan. Ulasan pengguna di platform digital seperti TikTok dan Instagram semakin memengaruhi keputusan pembelian daripada rekomendasi langsung dari influencer profesional.
Body care modern dipandang sebagai bagian integral dari self-care dan investasi kesehatan kulit serta tubuh jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat. Oleh karena itu, keputusan pembelian konsumen kini didasarkan pada efektivitas, keamanan, dan kesesuaian produk dengan kondisi kulit mereka.









