BERTUAHPOS — Meski era kuliner modern terus berkembang, getuk singkong masih menjadi primadona bagi sebagian masyarakat Pekanbaru. Salah satunya bisa ditemui di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Rumah Sakit Awal Bross. Di sana, seorang penjual bernama Wawan setia menjajakan getuk singkong sejak pagi hingga siang hari.
Wawan mengatakan sudah lebih dari lima tahun ia berjualan getuk di lokasi tersebut. Ia menekuni usaha ini karena merasa makanan tradisional berbahan dasar singkong tersebut memiliki pasar tersendiri, meskipun tidak seramai jajanan kekinian. “Getuk itu sederhana, tapi banyak orang yang rindu rasanya. Apalagi orang yang dulu biasa makan di kampung,” ujar Wawan kepada Bertuahpos Jum’at, 22 Agustus 2025.
Menurut pengakuannya, pembeli getuk kebanyakan berusia di atas 40 tahun. Mereka datang untuk sekadar bernostalgia dengan makanan yang identik dengan masa kecil. “Jarang sekali anak muda yang beli. Kalau pun ada, biasanya karena orang tua mereka minta dibelikan,” tambah Wawan sambil tersenyum.
Getuk sendiri terbuat dari singkong yang direbus, kemudian ditumbuk halus dan dicampur dengan parutan kelapa serta sedikit gula. Rasanya yang gurih manis membuatnya cocok disantap sebagai sarapan. Meski sederhana, proses pembuatannya tetap membutuhkan ketelatenan agar teksturnya lembut dan tidak mudah basi.
Meskipun tidak terlalu ramai pembeli dari kalangan muda, Wawan tetap optimistis getuk akan selalu punya tempat di hati masyarakat. Ia berharap pemerintah maupun komunitas kuliner bisa lebih sering mengangkat makanan tradisional agar tidak kalah pamor dengan jajanan modern.
Bagi sebagian masyarakat, getuk bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari kenangan. Di banyak daerah di Jawa dan Sumatra, getuk menjadi camilan yang biasa disajikan saat acara keluarga, arisan, atau hajatan. Kehadirannya memberi suasana hangat dan akrab di tengah masyarakat.
Namun kini, keberadaan penjual getuk semakin jarang dijumpai. Banyak yang beralih ke usaha minuman kekinian atau makanan modern karena dianggap lebih diminati pasar. Fenomena ini membuat makanan tradisional seperti getuk berpotensi semakin sulit ditemui.
Wawan pun mengakui tantangan itu. Ia mengatakan sempat tergoda untuk berjualan minuman kekinian, namun akhirnya tetap bertahan dengan getuk. “Kalau ikut-ikutan, mungkin cepat laku. Tapi saya percaya masih ada orang yang setia sama makanan tradisional,” katanya.
Dari sisi kesehatan, getuk juga dianggap lebih alami dibandingkan jajanan yang mengandung bahan pengawet. Bahan dasarnya hanya singkong, kelapa, dan gula, tanpa tambahan zat kimia. Hal ini yang membuat banyak orang tua merasa lebih aman mengonsumsinya.***



