Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَ رْضِ مِثْلَهُنَّ ۗ يَتَنَزَّلُ الْاَ مْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَا طَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 12).
Allah menciptakan tujuh langit dan bumi sebagai tanda kebesaran-Nya. Keteraturan alam dengan perintah Allah, semua berjalan sesuai hukum (sunnatullah) yang Allah tetapkan. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu tidak ada tersembunyi dari-Nya, baik yang nyata maupun yang ghaib.
Tujuan penciptaan – mengenal Allah agar manusia mengetahui kekuasaan dan ilmu Allah yang sempurna. Mengajak manusia untuk beriman, bertafakkur, dan bertawakal kepada Allah.
Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah Allah tetapkan…” (HR. Tirmidzi no. 2516 – shahih).
Penjabaran
Segala puji bagi Allah, Sang Arsitek alam semesta yang telah membentangkan tujuh lapis langit dan bumi dengan penuh keteraturan. Sebagai hamba-Nya, kita sering kali terpaku pada keindahan dunia tanpa menyelami makna di balik eksistensinya. Padahal, setiap jengkal ciptaan adalah “surat cinta” dari Allah agar kita mengenal siapa sesungguhnya Rabb kita.
1. Keagungan Arsitektur Langit dan Bumi
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq [65]: 12: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya…”
Ayat ini menegaskan bahwa alam semesta tidak tercipta secara kebetulan atau melalui proses buta. Adanya tujuh lapis langit dan bumi yang serupa menunjukkan kekuatan yang tak terbatas. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “perintah Allah berlaku padanya” bermakna adanya hukum alam (sunnatullah) dan hukum syariat yang mengatur seluruh tatanan kosmos. Allah tidak sekadar mencipta lalu membiarkannya, namun Ia terus-menerus mengatur setiap detail kehidupan melalui kekuasaan-Nya.
2. Ilmu Allah: Samudra Tanpa Tepi
Keajaiban penciptaan ini memiliki tujuan yang sangat spesifik, yaitu: “…agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Ilmu Allah bersifat mutlak. Tidak ada satu pun elektron yang bergerak, atau satu tetes air yang jatuh di dasar samudra yang paling gelap, melainkan dalam pengetahuan-Nya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam ayat lain:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan…” (QS. Al-An’am [6]: 59)
Kesadaran bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya seharusnya melahirkan sifat muraqabah (merasa diawasi) dan kejujuran dalam hati setiap muslim.
3. Ma’rifatullah: Puncak dari Perenungan (Tafakkur)
Tujuan akhir dari menyaksikan tanda-tanda kebesaran ini adalah agar manusia mencapai derajat Ma’rifatullah—mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Kita diajak untuk bertafakkur, bukan sekadar melihat dengan mata kepala, melainkan dengan mata hati. Dengan mengenal kekuasaan-Nya yang tak terbatas, seorang hamba akan merasa kecil di hadapan Sang Khalik, yang kemudian menumbuhkan rasa iman yang kokoh, ketundukan, dan rasa tawakal yang bulat.
4. Tauhid Rububiyah dan Ketenangan Hidup
Ketika kita memahami bahwa Allah adalah satu-satunya pengatur urusan di langit dan di bumi, maka ketergantungan kita kepada makhluk akan pupus. Inilah hakikat ketenangan. Sebagaimana pesan wasiat Rasulullah ﷺ kepada Abdullah bin Abbas RA:
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu…” (HR. Tirmidzi no. 2516, Hadits Shahih)
Hadits ini adalah kunci kebahagiaan. Jika Allah yang memegang kendali atas tujuh lapis langit, maka urusan hidup kita yang kecil ini tentulah berada dalam genggaman-Nya yang Maha Pengasih. Tidak perlu ada kecemasan berlebih terhadap masa depan selama kita berada dalam lindungan-Nya.
Semoga hari ini kita selalu mendapat limpahan rahmat, taufiq dan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kesehatan lahir bathin, rezeqi yang halal dan barokah. Dimudahkan dalam urusan dunia dan akhirat serta semoga dalam setiap langkah kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.***









