BERTUAHPOS.COM — Tekanan politik terhadap Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez semakin memanas setelah dua gempa bumi mengguncang negara itu, dengan hampir separuh warga menilai pemilihan presiden baru lebih mendesak daripada rekonstruksi bencana.
Tingkat ketidakpuasan publik terhadap Rodríguez naik menjadi 63,3 persen pada Juni berdasarkan survei AtlasIntel untuk Bloomberg News.
Mantan diplomat senior Amerika Serikat Brian Naranjo menilai kemarahan publik telah mencapai titik kritis yang mengancam stabilitas pemerintahan sementara. “Masyarakat sangat marah kepada pemerintah karena dianggap gagal memandang serius gempa bumi dan memberikan respons yang efektif,” ujarnya.
Survei yang dilakukan pada 26–30 Juni itu mencatat kenaikan ketidakpuasan hampir lima poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya. Hampir dua pertiga responden menyatakan tidak puas terhadap penanganan gempa oleh pemerintah.
Sebanyak 45,7 persen warga menginginkan pemilu baru segera digelar, sementara hanya 32,6 persen yang menilai pembangunan kembali wilayah terdampak harus didahulukan. Data resmi pemerintah mencatat 2.645 orang meninggal dan 12.666 orang luka-luka.
Namun, registrasi yang didukung kelompok oposisi masih mencatat lebih dari 35.000 orang hilang hingga kini. Kemarahan publik pun meluas di media sosial dengan berbagai video memperlihatkan warga berhadapan langsung dengan para pejabat. “Kerusuhan sipil bisa menjadi persoalan berikutnya,” kata Naranjo.
Dia menambahkan bahwa penanganan gempa justru membangkitkan solidaritas warga di luar ranah politik, memunculkan aksi gotong royong yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun.
Salah satu video viral menunjukkan relawan mempertanyakan tentara yang membawa senapan di kawasan bencana. Mereka menuntut penjelasan mengapa prajurit tidak membawa cangkul dan sekop untuk membantu evakuasi.
“Seragam itu seharusnya digunakan untuk membela negara, kita tidak sedang berperang, kita sedang menghadapi keadaan darurat,” kata seorang pria kepada para tentara dalam video tersebut.
Rodríguez membantah tuduhan lamban dengan menyebut narasi itu direkayasa melalui kampanye informasi terkoordinasi. Ia mengeklaim pemerintah langsung mengaktifkan respons darurat, meskipun akses ke daerah terpencil terputus hingga dua hari.









