BERTUAHPOS – Sejarah diplomasi Indonesia menyimpan fakta menarik yang jarang diketahui publik. Israel ternyata pernah berulang kali mencoba menjalin komunikasi langsung dengan pemerintah Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Namun, seluruh upaya tersebut tidak berujung pada hubungan diplomatik karena Indonesia memilih tetap berpihak pada Palestina.
Pada periode setelah proklamasi kemerdekaan, pengakuan dari negara lain menjadi kebutuhan strategis bagi Indonesia yang baru berdiri. Dalam situasi itu, Israel termasuk negara yang lebih awal memberikan pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia. Meski demikian, sikap politik luar negeri Indonesia sejak awal sudah menunjukkan garis yang berbeda.
Prinsip tersebut berakar kuat pada ideologi negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Pemerintah Indonesia menilai penjajahan dalam bentuk apa pun harus ditolak. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” demikian bunyi Pembukaan UUD 1945 yang menjadi dasar sikap politik Indonesia.
Penelitian berjudul Indonesia and Israel: A Relationship in Waiting (2005) karya Greg Barton dan Colin Rubenstein mengungkap, pada Desember 1949 Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri David Ben-Gurion mengirim telegram kepada Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pesan itu berisi ucapan selamat atas pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949.
Namun telegram tersebut tidak memperoleh tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia. Israel kemudian kembali mengirim pesan yang secara eksplisit menyatakan pengakuan penuh terhadap Indonesia. Wakil Presiden Mohammad Hatta akhirnya membalas dengan ucapan terima kasih, tetapi tanpa memberikan pengakuan diplomatik timbal balik. “Hatta merespons surat Israel dengan terima kasih, tapi tidak mau menjalin hubungan diplomasi,” tulis Barton dan Rubenstein dalam riset tersebut.
Upaya Israel berlanjut pada Mei 1950 melalui surat yang menawarkan bantuan bagi Indonesia yang saat itu masih membangun sistem pemerintahan pasca-perang. Meski peluang kerja sama terbuka, pemerintah Indonesia kembali memilih tidak merespons tawaran tersebut.
Seiring waktu, sikap Indonesia justru semakin tegas. Pada Juni 1952, sejumlah media Arab melaporkan pemerintah Indonesia tidak memiliki rencana mengakui Israel. Kebijakan ini dipengaruhi solidaritas terhadap Palestina, dukungan negara-negara Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta faktor mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.
Konsistensi politik luar negeri itu kemudian tercermin dalam berbagai kebijakan internasional. Indonesia tidak mengundang Israel dalam Konferensi Asia Afrika 1955 dan menolak keikutsertaan delegasi Israel pada Asian Games 1962 di Jakarta. Hingga kini, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, mempertahankan sikap politik yang telah dibangun sejak awal kemerdekaan.
— CNBC Indonesia —









