BERTUAHPOS — Jepang adalah negara yang cukup sadar terhadap bencana. Skenario evakuasi dan berbagai simulasi bencana telah menjadi hal rutin di negara Matahari terbit, dan warganya sudah terbiasa dengan hal itu.
Mungkin untuk menghilangkan rasa jenuh terhadap latihan evakuasi bencana, seorang mahasiswa di Prefektur Wakayama, Jepang, berinisiatif mengubah latihan evakuasi tsunami menjadi permainan dengan sebuah skenario terjadi gempa bumi dahsyat di malam hari. Hal ini pun dianggap sebuah latihan evakuasi bencana yang menghadirkan pendekatan baru.
Mahasiswa Universitas Kindai itu bernama Tsuyoshi Kitahara, berusia 21 tahun. Dia mengembangkan simulasi evakuasi malam hari yang dikemas seperti permainan untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga.
Dilansir Bertuahpos dari The Japan News, Selasa, 30 Desmeber 2025, simulasi perdana berlangsung di Distrik Shimizu, Kainan, wilayah yang diperkirakan berpotensi terdampak tsunami setinggi 8 meter jika terjadi gempa di Palung Nankai. Dalam skenario latihan, tsunami setinggi 1 meter diperkirakan tiba dalam waktu 48 menit.
Kitahara mengingatkan warga agar tidak terlena dengan waktu evakuasi. “48 menit bukan waktu panjang jika masyarakat tidak siap dan tidak memahami jalur evakuasi dengan baik,” ujarnya.
Setidaknya ada 25 peserta yang ikut dalam simulasi itu. Mereka terdiri dari warga, pelajar SMA, dan staf pemerintah prefektur, yang dibagi dalam kelompok dan harus mencapai titik evakuasi di dataran lebih tinggi sambil mengidentifikasi jalur berbahaya.
Latihan ini juga memasukkan kondisi penyandang disabilitas. Setiap kelompok diwajibkan membawa satu anggota yang menggunakan kacamata hitam dan penyumbat telinga untuk mensimulasikan evakuasi bersama warga dengan keterbatasan fisik.
Peserta melewati rintangan berupa genteng pecah hingga pohon tumbang yang sengaja disiapkan di sepanjang jalur. Mereka menyingkirkan hambatan sambil berjalan menanjak dalam kondisi minim pencahayaan.
Dengan hanya berbekal senter, para peserta terus saling memberi peringatan di sepanjang perjalanan. Mereka mengingatkan adanya celah tanah, jalur licin, serta area yang dinilai tidak aman untuk evakuasi.
Setelah simulasi berakhir, peserta memberikan evaluasi. Sebagian warga menilai perlunya interaksi rutin antarsesama agar koordinasi saat bencana lebih kuat, termasuk penekanan akan pentingnya penambahan lampu jalan di jalur evakuasi.
Seorang pelajar SMA yang ikut latihan itu merasa dapat pengalaman berharga. “Tanpa sarung tangan, akan cukup sulit menyingkirkan rintangan, sehingga perlengkapan evakuasi menjadi sangat penting,” katanya.
Kitahara mengembangkan program ini berdasarkan pengalamannya tumbuh di Kobe, wilayah yang pernah terdampak Gempa Besar Hanshin tahun 1995.
Harapannya, simulasi ini dapat membantu memperkuat kesadaran kesiapsiagaan bencana dan memperbarui panduan mitigasi yang lebih praktis bagi masyarakat.***









