BERTUAHPOS – Otoritas kesehatan Gaza melaporkan sepuluh warga Palestina, termasuk dua anak-anak, meninggal dunia akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir. Total korban jiwa akibat kelaparan sejak perang dimulai telah mencapai 313 orang, di antaranya 119 anak-anak. Kondisi ini kian memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang terkepung.
Paus Leo XIV pada Rabu, 27 Agustus 2025, mendesak Israel menghentikan “hukuman kolektif” terhadap penduduk Gaza, seperti dilaporkan The Guardian. Ia menyerukan gencatan senjata permanen, akses bantuan kemanusiaan yang aman, serta penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional. Seruan tersebut disampaikan di Vatikan dan mendapat sambutan tepuk tangan ribuan hadirin.
Paus menegaskan bahwa larangan terhadap hukuman kolektif, serangan tanpa pandang bulu, dan pemindahan paksa penduduk merupakan prinsip dasar hukum internasional. Menurutnya, penghentian permusuhan menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah semakin banyak korban sipil jatuh di Gaza.
Laporan Save the Children memperlihatkan kondisi anak-anak di Gaza semakin memprihatinkan. CEO Save the Children, Inger Ashing, mengatakan anak-anak yang kelaparan kini terlalu lemah untuk menangis atau berbicara. “Mereka meninggal secara perlahan karena tubuh mereka mengonsumsi lemak, otot, hingga organ vital sendiri,” ujarnya dalam rapat Dewan Keamanan PBB di New York.
Sementara itu, tank-tank Israel terus bergerak memasuki pinggiran Kota Gaza. Serangan artileri menghantam permukiman Ebad al-Rahman, menghancurkan rumah-rumah, dan menggusur warga. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 76 orang tewas akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir.
Militer Israel mengklaim operasinya di Jabaliya dan sekitar Kota Gaza bertujuan membongkar infrastruktur Hamas. Mereka menyebut berhasil menewaskan Mahmoud al-Aswad, kepala intelijen Hamas untuk Gaza barat. Israel menegaskan akan melanjutkan serangan darat meski ada seruan gencatan senjata.
Kota Gaza kini menjadi tempat perlindungan bagi sekitar 1 juta orang, atau setengah populasi Jalur Gaza. Namun Israel telah memerintahkan warga untuk mengungsi ke selatan. Langkah ini dinilai badan kemanusiaan melanggar hukum internasional dan berisiko memperburuk krisis pangan serta kesehatan di wilayah itu.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyebut evakuasi Kota Gaza tidak dapat dihindari. Israel telah menyiapkan tenda di wilayah selatan untuk menampung gelombang pengungsi baru. Namun gereja-gereja di Gaza menolak meninggalkan kota karena kondisi warga yang lemah dan kekurangan gizi, dengan alasan evakuasi sama dengan “hukuman mati”.
Israel juga belum menanggapi proposal gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan diterima Hamas pekan lalu. Media Israel melaporkan pemerintahan Benjamin Netanyahu lebih memilih melanjutkan perang hingga Hamas tersingkir sepenuhnya dari Gaza.
Sejak perang pecah 22 bulan lalu, sedikitnya 62.895 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Konflik ini berawal dari serangan militan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel. Hingga kini, upaya diplomasi internasional belum mampu menghentikan eskalasi perang dan krisis kemanusiaan di Gaza.***









