BERTUAHPOS – Mikroalga dianggap sebagai “mesin biologis” paling efisien sebagai solusi alami menghadapi masalah krisis lingkungan dan energi saat ini, kata Koordinator Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Riau, Padil.
Mikroalga dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi alami dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari peningkatan emisi karbon, pencemaran air, hingga kebutuhan energi terbarukan.
“Organisme bersel satu ini mulai mendapat perhatian serius dari kalangan ilmuwan karena efisiensinya yang tinggi dan biaya penerapan yang relatif rendah,” katanya.
Para peneliti yakin, bahwa mikroalga sebagai salah satu “mesin biologis” paling efisien di alam. Mikroalga mampu melakukan fotosintesis, menghasilkan oksigen, sekaligus menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, bahkan jauh lebih cepat dibandingkan tanaman darat.
Sejumlah penelitian internasional menunjukkan mikroalga dapat menyerap karbon dioksida 10 hingga 50 kali lebih cepat dibandingkan pohon.
Kemampuan tersebut membuat mikroalga dinilai efektif sebagai penekan emisi gas rumah kaca yang selama ini menjadi pemicu utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Kondisi ini mendorong berbagai sektor industri, seperti pembangkit listrik tenaga uap, pabrik semen, dan industri kimia, mulai melirik mikroalga sebagai biofilter alami.
“Gas buang dari aktivitas industri dapat dialirkan ke kolam mikroalga untuk diserap sebagai sumber nutrisi, sehingga emisi karbon dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Selain menyerap karbon, mikroalga juga berperan sebagai pemurni air alami. Organisme ini mampu menyerap zat pencemar seperti nitrogen, fosfat, amonia, hingga logam berat yang banyak ditemukan dalam limbah domestik dan industri.
Berbagai studi di Asia dan Amerika Latin mencatat spesies mikroalga tertentu mampu menurunkan kadar amonia hingga 95 persen dan fosfat hingga 90 persen. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan mikroalga dalam pengolahan limbah cair perkotaan yang selama ini menjadi masalah serius di banyak wilayah.
Di Indonesia, sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset telah mengembangkan sistem pengolahan limbah berbasis mikroalga. Limbah pasar, peternakan, hingga industri tahu dinilai cocok dimanfaatkan sebagai media tumbuh mikroalga karena kaya nutrisi.
“Tak hanya di sektor lingkungan, mikroalga juga dinilai menjanjikan sebagai sumber energi terbarukan. Beberapa jenis mikroalga mampu menghasilkan minyak hingga 70% dari bobot keringnya yang dapat diolah menjadi biodiesel berkualitas tinggi tanpa memerlukan lahan luas,” tambah Fadil.
Budidaya mikroalga dapat dilakukan di kolam terbuka, tangki tertutup, hingga lahan tidak produktif seperti kawasan pesisir dan area industri. Selain biodiesel, mikroalga juga berpotensi menghasilkan bioetanol, biogas, hidrogen, hingga listrik berbasis teknologi mikroba.
Dengan kekayaan hayati mikroalga yang melimpah di wilayah pesisir, danau, dan perairan tropis, Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan industri hijau berbasis mikroalga.
Pemanfaatan organisme ini diharapkan dapat membantu mengurangi pencemaran, meningkatkan ketahanan energi, serta menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan di masa depan.***









