Nilai Tukar Rupiah Melemah, Utang Luar Negeri Naik 30%

Rabu, 25 September 2013 05:56
BERTUAHPOS, JAKARTA – Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani memperhitungkan nominal rupiah untuk utang luar negeri naik 30 persen akibat depresiasi rupiah. “Dulu pinjam kurs Rp 8.500, sekarang jadi Rp 11 ribu, utang naik sekitar 30 persenan,” kata Aviliani kepada Tempo. 
 
Aviliani menilai Bank Indonesia perlu melakukan stabilisasi nilai tukar agar tak terdepresiasi lebih dalam dan beban utang semakin membesar. Pemerintah dan Bank Indonesia bisa memanfaatkan Chiang Mai Initiatives untuk membantu stabilisasi nilai tukar. “Paling tidak supaya rupiah tidak anjlok,” kata dia. Seperti diketahui cadangan devisa Indonesia sudah merosot ke level US$ 92,7 miliar pada akhir Juli 2013. Hal ini membuat kemampuan intervensi BI semakin terbatas. 
 
Sebagai langkah stabilisasi rupiah, Aviliani menambahkan, Bank Indonesia bisa mengambil kebijakan beli atas modal jangka pendek milik asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi. Total kepemilikan asing di saham dan obligasi diperkirakan mencapai Rp 600 triliun. “Selama ini, yang bisa dibeli BI cuma obligasi pemerintah, obligasi swasta perlu dipikirkan untuk dibeli. Kalau tidak, tidak aman,” katanya.
 
Adapun untuk mengantisipasi kebutuhan dolar yang tinggi untuk pembayaran luar negeri di paruh kedua tahun ini, ia usul Pemerintah bisa mendorong restrukturisasi utang luar negeri swasta. Jatuh tempo utang luar negeri swasta semakin cepat lantaran swasta banyak mengambil utang jangka pendek dari semula bertenor rata-rata 5 tahunan menjadi 8 bulanan. “Pemerintah bisa menjadi penengah, supaya kreditur percaya,” ujarnya. 
 
Restrukturisasi juga dinilai Aviliani penting untuk mencegah gagal bayar baik yang dikarenakan kinerja perusahaan yang menurun atau risiko kurs. “Kalau ada gagal bayar bisa berdampak pada krisis kepercayaan pada swasta domestik dan Indonesia,” katanya. 
 
Sepanjang 2013, total pembayaran utang luar negeri pemerintah, bank sentral dan swasta direncanakan sebesar US$ 41,20 miliar, sedangkan sepanjang Juli – Desember sebesar US$ 27,86 miliar. Khusus untuk utang luar negeri swasta, total pembayaran utang luar negeri direncanakan US$ 32,12 miliar sepanjang tahun ini dan US$ 22,27 miliar sepanjang Juli – Desember. 
 
 
(tempo.co)