BERTUAHPOS.COM — Pergerakan harga dolar (AS) membuat harga emas Antam hari ini, Senin, 1 Juni 2026, semakin terkunci.
Harga emas Antam hari ini terpantau tidak bergerak (stagnan) di Rp2,799 juta per gram, sama seperti posisi Sabtu, 30 Mei 2026. Pergerakan datar ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia.
Harga buyback atau jual kembali emas Antam juga tidak berubah, bertahan di angka Rp 2,609 juta per gram. Sementara itu, rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high) harga emas Antam masih tercatat di level Rp 3,168 juta per gram yang dicetak pada Kamis, 29 Januari 2026.
Harga emas Antam bergerak mengikuti tren emas dunia yang melemah pada perdagangan hari ini. Harga emas spot turun 0,43% ke posisi US$ 4.519,9 per ons troy, sementara kontrak berjangka emas AS merosot 0,95% ke level US$ 4.549,12 per ons troy, menurut data di laman Logam Mulia.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membatasi potensi kenaikan harga emas global. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Pasar juga masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada 29 Mei 2026 menyatakan pemerintahannya akan segera mengambil keputusan soal proposal perpanjangan gencatan senjata, namun kedua negara masih berselisih pandangan dalam sejumlah isu penting.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukan bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi militer terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Situasi ini biasanya mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas, meski penguatan dolar dan prospek suku bunga tinggi masih menjadi penahan kuat.
Kenaikan harga minyak lebih dari 2% pada perdagangan Senin turut memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi bisa kembali meningkat. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga akan semakin sempit.
Wakil Ketua The Fed Michelle Bowman menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian masih terus diukur, dan situasi tersebut berpotensi membuat inflasi bertahan pada level lebih tinggi.
Presiden The Fed Bank of Philadelphia Anna Paulson juga berpandangan bahwa tingkat suku bunga saat ini yang berada di level “cukup ketat” masih diperlukan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi harga emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya.
Permintaan emas fisik di India pun dilaporkan masih lesu akibat harga tinggi dan beban bea masuk, sementara di China premi emas menyempit karena investor memilih bersikap hati-hati.
Meski tekanan dari berbagai sisi masih terasa, aktivitas spekulatif di pasar berjangka menunjukkan optimisme yang belum padam.
Data terbaru mencatat spekulan emas meningkatkan posisi beli bersih sebanyak 2.544 kontrak menjadi 96.931 kontrak pada pekan yang berakhir 26 Mei 2026, sinyal bahwa kepercayaan terhadap prospek harga emas Antam dan emas global belum sepenuhnya luntur.









