BERTUAHPOS.COM — Peredaran uang rupiah dalam arti luas (M2) tercatat melambat signifikan menjadi 8,7% secara tahunan pada Juni 2026. Di tengah pengetatan likuiditas itu, kredit perbankan justru melesat ke level tertinggi 12,1%.
Bank Indonesia melaporkan total M2 mencapai Rp10.432,8 triliun. Angka ini turun dari pertumbuhan 10,8% pada Mei 2026.
Perlambatan paling tajam terjadi pada uang beredar sempit (M1) yang hanya tumbuh 9,8%. Giro rupiah menjadi pemicu utama dengan penurunan drastis ke 10,4% dari sebelumnya 23,9%.
Sementara itu, simpanan berjangka mulai bangkit dengan pertumbuhan 6,9%. Pergeseran preferensi masyarakat dari giro ke deposito mulai terlihat seiring kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan menunjukkan akselerasi agresif ke Rp8.916,7 triliun. Kredit korporasi menjadi motor utama pertumbuhan dengan lonjakan 19,3%.
Ekspansi kredit didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 22,5% ke sektor pengolahan dan konstruksi. Kredit modal kerja turut menguat ke 9,6%.
Sektor properti masih mencatatkan pertumbuhan ekspansif sebesar 17,6%. Kredit konstruksi melonjak 47,1%, sementara KPR sedikit melambat ke 4,4%.
Dana pihak ketiga (DPK) mulai kehilangan momentum dengan pertumbuhan hanya 8,1%. Masyarakat mulai mengalihkan dananya ke instrumen deposito bertenor panjang.
Biaya dana perbankan ikut meningkat dengan suku bunga kredit rata-rata naik ke 8,79%. Kenaikan ini terjadi di seluruh tenor simpanan berjangka dari satu bulan hingga satu tahun.
Kondisi peredaran uang rupiah yang mengetat menunjukkan ruang likuiditas yang menyempit. Namun, akselerasi kredit korporasi menegaskan bahwa sektor usaha masih memiliki selera ekspansi yang tinggi.









